Hargailah Masa

myFriends

M-edukasi

www.m-edukasi.web.id blog guru
Sahabat Edukasi CMS Formulasi Flag Counter

advertisement

Bantu Kami Mengembangkan Website Ini Dengan Satu Kali Klik Iklan DiBawah Ini. Terimakasih

.
.
۞Aksara Senja۞. Diberdayakan oleh Blogger.

Alasan Siswa Tidak Menyukai Guru

Written By Unknown on Senin, 11 Maret 2013 | 18.59

Proses belajar mengajar kadang kala tidak berjalan dengan baik. Misalnya di sekolah, masalah umum yang sering timbul adalah siswa terlambat masuk, tidak mengerjakan tugas dengan baik, melanggar peraturan sekolah, dll. Beberapa hal ini sering membuat para guru kewalahan. Sampai pada keputusan final harus dikembalikan kepada orang tua. kekacauan demi kekacauan yang diciptrakan oleh siswa sering membuat beberapa guru jengkel. Tak jarang semua guru mengenal siswa tersebut karena kenakalannya.
Namun, bagaimana jika kenyataan tersebut berbalik arah? Siswa yang tidak suka pada gurunya.?
“Sama gurunya aja ndak suka, apalagi pelajarannya”. “Gimana mau suka, yang ngajar nyebelin”. beberapa kalimat tersebut sering terlontar dari siswa yang tidak menyukai gurunya. Ada beberapa penyebab mengapa siswa tidak menyukai guru.
  • Penampilan yang kurang menarik. Menjadi seorang guru akan lebih banyak berada di muka kelas. Kalau penampilan guru tersebut tidak menarik, lamabat laun akan memacu kebosanan. Akibatnya siswa menolak untuk menerima kehadiran guru yang mereka anggap monoton tersebut.
  • Cara mengajar yang kurang pas. Kelas terdiri dari beragam siswa. Guru yang menerangkan pelajaran dengan lamban akan disenangi oleh murid yang memang kemampuannya terbatas. Namun, akan menjadi musuh bagi mereka yang bisa diajak belajar cepat. Begitu sebaliknya.
  • Memberikan tugas yang tidak wajar, tidak masuk akal, dan menyusahkan siswa.
  • Marah karena hal sepele.
  • Mempermalukan siswa di depan siswa lainnya.
  • Subjektif dalam memberikan nilai.
Beberapa faktor ini bisa menjadi alasan siswa tidak suka kepada guru. kalau ada murid yang tidak suka pada kita sebagai guru. Jangan marah, apalagi memberi nilai di bawah rata-rata. Segeralah intropeksi diri.
18.59 | 0 komentar | Read More

Etika Berpakaian Seorang Guru

Orang jawa menyebutkan bahwa Guru berasal dari kata “digugu lan ditiru”. Artinya bahwa seorang Guru harus bisa dipercaya dan ditiru setiap hal yang positif. baik dari segi keilmuan yang dikuasainya hingga sikap dan etikanya ketika di sekolah. Peraturan sekolah selalu memberikan aturan kepada semua siswanya mulai dari A sampai Z. Termasuk bagaimana bentuk seragam mereka. Rata-rata sekolah mengharuskan seragam siswa tidak neko-neko. Misalnya, celana siswa putra tidak boleh domodel seperti celana pensil, atasan tidak boleh dimodel jangkis, kaos kaki harus putih dan hitam saja, sepatu harus bertali, dan sebagainya. Begitu pula dengan anak perempuan, bawahan panjangnya harus mencapai lima centimeter dibawah lutut, atasan tidak boleh ketat, bagi yang berkerudung tidak diperbolehkan memakai kerudung instan, dan lain-lain. Banyaknya peraturan yang menjerat siswa bisa saja menimbulkan protes yang luar biasa, jika ada salah seorang Guru yang berbusana diluar etika. Misalnya, “Bu X pake rok mini,..ketat,..dibelah belakang lagi,…gitu aja dibiarin,…lipstiknya merah banget lagi,..belum lagi sepatunya tuh,..tinggi banget kek tangga,…huh coba kita yang pake rok pendek dikit pasti deh,..lari lapangan,…hormat bendera“. Pernah mendengar celotehan ini / atau bahkan kita yang pernah mengatakan hal yang sama semasa sekolah dulu? Segalanya jelas,..karena si murid merasa sekolah tidak adil,…jika mereka dijerat oleh banyak peraturan. Ada baiknya Dewan guru dan karyawan pun dikenakan peraturan yang sama mendidiknya. Intinya seorang guru haruslah berpakaian yang sopan jika ke sekolah. mengenakan pakaian yang sesuai ukuran tubuh (tidak terlalu ketat atau kedodoran) begitu pula dengan model bajunya. Menggunakan tata rias yang jauh lebih natural (Ndak norak,..yang penting kelihatan bersih). Sepatu yang digunakan pun jangan yang berlebihan, hindari hak terlalu tinggi dn motif yang terlalu rame. Perhiasan dan asesoris sewajarnya saja, jangan sampai dapat julukan toko mas berjalan daari murid kita.Yang terpenting dari semua itu ialah menjaga segala tingkah dan laku. Termasuk perkataan dan pergaulan sesama guru. Karena apa yang dilihat oleh anak didik kita akan selamanya melekat. Julukan Bu Hebring (berlebihan memakai perhiasan), Miss RingRing (Tukang telpon), dan sebagainya ialah berasal dari perilaku dan cara seorang guru mendandani fisiknya. Semoga bisa saling berintropeksi
18.56 | 0 komentar | Read More

Manajemen Pengajaran

Written By Unknown on Selasa, 18 Desember 2012 | 02.24

Manajemen pengajaran adalah setiap usaha sekolah untuk mengatur seluruh kegiatan, baik yang bersifat intrakurikuler, kokurikuler maupun ekstrakurikuler. Dalam mengelola pengajaran, Ida Alaeda mengemukakan beberapa prinsip manajemen pengajaran yang berorientasi pada fungsi manajemen. Sebagaimana yang dikemukakan oleh Burrup yaitu, tujuan yang dikehendaki harus jelas, makin operasional tujuan makin mudah terlihat dan makin tepat untuk mencapai tujuan, program itu harus sederhana (simple), program-program yang disusun itu harus sinkron dengan tujuan yang telah ditentukan, program itu harus bersifat menyeluruh dan program itu harus ada koordinasi terhadap komponen yang melaksanakan program di sekolah. Piet Sahertin berpendapat bahwa tugas pendidikan administrasi atau manajemen adalah menterjemahkan kurikulum ke proses belajar mengajar, menyusun kalender sekolah, mengatur jadwal, menata sistem program di sekolah, menyusun beberapa konsep dasar, melaksanakan kegiatan pengajaran lainnya yaitu pembukaan tahun ajaran baru, pembinaan disiplin di sekolah, penilaian siswa dan penutup tahun ajaran. Kepala sekolah merupakan seorang manajer di sekolah. Ia harus bertanggung jawab terhadap perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian perubahan atau perbaikan program pengajaran disekolah. Untuk kepentingan tersebut, sedikitnya terdapat empat langkah yang harus dilakukan, yaitu menilai kesesuaian program yang ada dengan tuntutan kebudayaan dan kebutuhan murid, meningkatkan perencanaan program, memilih dan melaksanakan program, serta menilai perubahan program.
02.24 | 0 komentar | Read More

Manajemen Kelas dan Efektifitas Pembelajaran

Pendidikan merupakan proses tindakan bimbingan dan pertolongan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan kepribadian peserta didik. Pendidikan mengusahakan pembinaan pribadi manusia sampai pada tujuan akhirnya yaitu kebahagiaan dan sekaligus berguna bagi kepentingan masyarakat. Maka kegiatan pendidikan yang benar adalah pembinaan kepribadian manusia untuk mampu membina hubungan yang harmonis dengan Tuhan dan diri sendiri, serta sekaligus untuk kepentingan masyarakat, perilaku hubungan dengan keluarga, masyarakat dan alam sekitar. Oleh karena itu, dalam proses pembelajaran kelas perlu dikelola sedemikian rupa sehingga membantu pertumbuhan dan perkembangan kepribadian peserta didik. Pengelolaan kelas tidak sekedar bagaimana mengatur ruang kelas dengan segala sarana dan prasarananya, tetapi menyangkut bagaimana interaksi dan pribadi-pribadi di dalamnya. Pengelolaan kelas lebih ditekankan bagaimana pribadi-pribadi dalam kelas dapat menjadi suatu komunitas yang penuh persaudaraan dan kekeluargaan. Komunitas yang demikian akan mengembangkan kepribadian baik pendidik maupun peserta didiknya. Dari sini, maka peserta didik di kelas tidak hanya belajar aspek pengetahuan akan tetapi juga aspek afektif dan sosialitasnya. Pengelolaan kelas merupakan ketrampilan guru untuk menciptakan iklim pembelajaran yang kondusif dan mengendalikannya jika terjadi gangguan dalam pembelajaran. Beberapa prinsip yang harus diperhatikan dalam pengelolaan kelas adalah (1) kehangatan dan keantusiasan, (2) tantangan, (3) bervariasi, (4) luwes, (5) penekanan pada hal-hal positif, (6) penanaman disiplin diri. Ketrampilan mengelola kelas memiliki komponen sebagai berikut: 1. Penciptaan dan pemeliharaan iklim pembelajaran yang optimal. a) Menunjukkan sikap tanggap dengan cara: memandang secara seksama, mendekati, memberikan pernyataan dan memberi reaksi terhadap gangguan di kelas. b) Membagi reaksi secara visual dan verbal. c) Memusatkan perhatian kelompok dengan cara menyiapkan peserta didik terhadap gangguan di kelas. d) Memberi petunjuk dan teguran secara jelas dan bijaksana. 2. Ketrampilan yang berhubungan dengan pengendalian kondisi belajar yang optimal, dengan cara: 1) Modifikasi perilaku: a) Mengajarkan perilaku baru dengan contoh dan pembiasaan. b) Meningkatkan perilaku yang baik melalui penguatan. c) Mengurangi perilaku buruk dengan hukuman. 2) Pengelolaan kelompok dengan cara (1) peningkatan kerjasama dan ketertiban, (2) menangani konflik dan memperkecil masalah yang timbul. 3) Menemukan dan mengatasi perilaku yang menimbulkan masalah: a) Pengabaian yang direncanakan. b) Campur tangan dengan isyarat. c) Mengawasi secara ketat. d) Mengakui perasaan negatif peserta didik. e) Mendorong peserta didik untuk mengungkapkan perasaannya f) Menghilangkan ketegangan dengan belajar dan mengekang secara fisik. Ada asumsi bahwa manajemen kelas yang baik merupakan hasil sadar atas peranan guru untuk mengintegrasikan manajemen interaksi (belajar mengajar) dengan perencanaan interaksi pengajaran. Perpaduan ini seringkali menghasilkan persoalan dalam masalah disiplin. Interaksi belajar mengajar dan manajemen hakikatnya tidak terpisah, tetapi lebih merupakan dua komponen utama yang harus dibangun satu dengan lainnya jika menginginkan tercapainya kelas yang harmonis. Ketrampilan guru yang efektif akan mengawasi perilaku murid dengan waktu yang baik, dengan memberikan pertanyaan yang baik, atau jenis pengalaman pembelajaran. Pengawasan itu justru bisa efektif sebagai tindakan manajemen kelas secara langsung. Meskipun pengajaran dan manajemen dilakukan berbeda, keduanya saling melengkapi dan berinteraksi dalam cara-cara yang produktif. Guru menyusun perencanaan pengajaran. Selanjutnya memimpin dalam proses pengajaran, memotivasi dalam belajar, dan selanjutnya mengawasi atau mengevaluasi hasil belajar. Semua itu adalah tindakan manajemen kelas yang dipadukan untuk mencapai efektifitas pembelajaran.
02.24 | 0 komentar | Read More

Meningkatkan Kualitas Pembelajaran

Guru kreatif, professional dan menyenangkan harus memiliki berbagai konsep dan cara untuk meningkatkan kualitas pembelajaran, antara lain: a. Mengembangkan kecerdasan emosi, ada beberapa cara untuk mengembangkan kecerdasan emosi ini dalam pembelajaran, yaitu dengan: 1) Menyediakan lingkungan yang kondusif. 2) Menciptakan iklim pembelajaran yang demokratis. 3) Mengembangkan sikap empati. 4) Membantu peserta didik menemukan solusi dalam setiap masalah yang dihadapinya. 5) Menjadi teladan dalam menegakkan aturan dan disiplin dalam pembelajaran. b. Mengembangkan kreativitas dalam pembelajaran. Dalam hal ini peserta didik akan lebih kreatif jika; 1) Dikembangkan rasa percaya diri pada peserta didik dan tidak ada perasaan takut. 2) Diberi kesempatan untuk berkomunikasi ilmiah secara bebas dan terarah. 3) Diberikan pengawasan yang tidak terlalu ketat dan tidak otoriter. c. Mendisiplinkan peserta didik dengan kasih sayang. Dalam pembelajaran, guru berhadapan dengan sejumlah peserta didik dengan berbagai macam latar belakang, sikap, dan potensi yang kesemuanya itu berpengaruh terhadap kebiasaannya dalam mengikuti pembelajaran dan berperilaku di sekolah. Dalam pembelajaran mendisiplinkan peserta didik harus dilakukan dengan kasih sayang, dan harus ditujukan untuk membantu mereka menemukan diri; mengatasi situasi yang menyenangkan bagi kegiatan pembelajaran. d. Membangkitkan nafsu belajar. Cara membangkitkan nafsu belajar, antara lain: 1) Tujuan pembelajaran harus disusun dengan jelas dan diinformasikan kepada peserta didik sehingga mereka mengetahui tujuan belajar. 2) Peserta didik harus selalu diberitahu tentang kompetensi dan hasil belajarnya. 3) Pemberian pujian dan hadiah lebih baik daripada hukuman. 4) Memanfaatkan sikap, cita-cita, rasa ingin tahu dan ambisi peserta didik, misalnya perbedaan kemampuan, latar belakang. e. Mendayagunakan sumber belajar. Caranya: 1) Memanfaatkan perpustakaan dengan semaksimal mungkin dengan memahami hal-hal yang berkenaan dengan perpustakaan yaitu sistem katalog, bahan-bahan referensi seperti; kamus, ensiklopedi dan lain-lain. 2) Memanfaatkan media masa, misalnya: radio, televisi, surat kabar dan majalah. 3) Sumber yang ada di masyarakat, misalnya perusahaan swasta, pabrik dan lain-lain.
02.24 | 0 komentar | Read More

Manajemen Kelas dan Efektifitas Pembelajaran

Pendidikan merupakan proses tindakan bimbingan dan pertolongan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan kepribadian peserta didik. Pendidikan mengusahakan pembinaan pribadi manusia sampai pada tujuan akhirnya yaitu kebahagiaan dan sekaligus berguna bagi kepentingan masyarakat. Maka kegiatan pendidikan yang benar adalah pembinaan kepribadian manusia untuk mampu membina hubungan yang harmonis dengan Tuhan dan diri sendiri, serta sekaligus untuk kepentingan masyarakat, perilaku hubungan dengan keluarga, masyarakat dan alam sekitar. Oleh karena itu, dalam proses pembelajaran kelas perlu dikelola sedemikian rupa sehingga membantu pertumbuhan dan perkembangan kepribadian peserta didik. Pengelolaan kelas tidak sekedar bagaimana mengatur ruang kelas dengan segala sarana dan prasarananya, tetapi menyangkut bagaimana interaksi dan pribadi-pribadi di dalamnya. Pengelolaan kelas lebih ditekankan bagaimana pribadi-pribadi dalam kelas dapat menjadi suatu komunitas yang penuh persaudaraan dan kekeluargaan. Komunitas yang demikian akan mengembangkan kepribadian baik pendidik maupun peserta didiknya. Dari sini, maka peserta didik di kelas tidak hanya belajar aspek pengetahuan akan tetapi juga aspek afektif dan sosialitasnya. Pengelolaan kelas merupakan ketrampilan guru untuk menciptakan iklim pembelajaran yang kondusif dan mengendalikannya jika terjadi gangguan dalam pembelajaran. Beberapa prinsip yang harus diperhatikan dalam pengelolaan kelas adalah (1) kehangatan dan keantusiasan, (2) tantangan, (3) bervariasi, (4) luwes, (5) penekanan pada hal-hal positif, (6) penanaman disiplin diri. Ketrampilan mengelola kelas memiliki komponen sebagai berikut: 1. Penciptaan dan pemeliharaan iklim pembelajaran yang optimal. a) Menunjukkan sikap tanggap dengan cara: memandang secara seksama, mendekati, memberikan pernyataan dan memberi reaksi terhadap gangguan di kelas. b) Membagi reaksi secara visual dan verbal. c) Memusatkan perhatian kelompok dengan cara menyiapkan peserta didik terhadap gangguan di kelas. d) Memberi petunjuk dan teguran secara jelas dan bijaksana. 2. Ketrampilan yang berhubungan dengan pengendalian kondisi belajar yang optimal, dengan cara: 1) Modifikasi perilaku: a) Mengajarkan perilaku baru dengan contoh dan pembiasaan. b) Meningkatkan perilaku yang baik melalui penguatan. c) Mengurangi perilaku buruk dengan hukuman. 2) Pengelolaan kelompok dengan cara (1) peningkatan kerjasama dan ketertiban, (2) menangani konflik dan memperkecil masalah yang timbul. 3) Menemukan dan mengatasi perilaku yang menimbulkan masalah: a) Pengabaian yang direncanakan. b) Campur tangan dengan isyarat. c) Mengawasi secara ketat. d) Mengakui perasaan negatif peserta didik. e) Mendorong peserta didik untuk mengungkapkan perasaannya f) Menghilangkan ketegangan dengan belajar dan mengekang secara fisik. Ada asumsi bahwa manajemen kelas yang baik merupakan hasil sadar atas peranan guru untuk mengintegrasikan manajemen interaksi (belajar mengajar) dengan perencanaan interaksi pengajaran. Perpaduan ini seringkali menghasilkan persoalan dalam masalah disiplin. Interaksi belajar mengajar dan manajemen hakikatnya tidak terpisah, tetapi lebih merupakan dua komponen utama yang harus dibangun satu dengan lainnya jika menginginkan tercapainya kelas yang harmonis. Ketrampilan guru yang efektif akan mengawasi perilaku murid dengan waktu yang baik, dengan memberikan pertanyaan yang baik, atau jenis pengalaman pembelajaran. Pengawasan itu justru bisa efektif sebagai tindakan manajemen kelas secara langsung. Meskipun pengajaran dan manajemen dilakukan berbeda, keduanya saling melengkapi dan berinteraksi dalam cara-cara yang produktif. Guru menyusun perencanaan pengajaran. Selanjutnya memimpin dalam proses pengajaran, memotivasi dalam belajar, dan selanjutnya mengawasi atau mengevaluasi hasil belajar. Semua itu adalah tindakan manajemen kelas yang dipadukan untuk mencapai efektifitas pembelajaran.
02.24 | 0 komentar | Read More

Manajemen Kelas dan Efektifitas Pembelajaran

Pendidikan merupakan proses tindakan bimbingan dan pertolongan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan kepribadian peserta didik. Pendidikan mengusahakan pembinaan pribadi manusia sampai pada tujuan akhirnya yaitu kebahagiaan dan sekaligus berguna bagi kepentingan masyarakat. Maka kegiatan pendidikan yang benar adalah pembinaan kepribadian manusia untuk mampu membina hubungan yang harmonis dengan Tuhan dan diri sendiri, serta sekaligus untuk kepentingan masyarakat, perilaku hubungan dengan keluarga, masyarakat dan alam sekitar. Oleh karena itu, dalam proses pembelajaran kelas perlu dikelola sedemikian rupa sehingga membantu pertumbuhan dan perkembangan kepribadian peserta didik. Pengelolaan kelas tidak sekedar bagaimana mengatur ruang kelas dengan segala sarana dan prasarananya, tetapi menyangkut bagaimana interaksi dan pribadi-pribadi di dalamnya. Pengelolaan kelas lebih ditekankan bagaimana pribadi-pribadi dalam kelas dapat menjadi suatu komunitas yang penuh persaudaraan dan kekeluargaan. Komunitas yang demikian akan mengembangkan kepribadian baik pendidik maupun peserta didiknya. Dari sini, maka peserta didik di kelas tidak hanya belajar aspek pengetahuan akan tetapi juga aspek afektif dan sosialitasnya. Pengelolaan kelas merupakan ketrampilan guru untuk menciptakan iklim pembelajaran yang kondusif dan mengendalikannya jika terjadi gangguan dalam pembelajaran. Beberapa prinsip yang harus diperhatikan dalam pengelolaan kelas adalah (1) kehangatan dan keantusiasan, (2) tantangan, (3) bervariasi, (4) luwes, (5) penekanan pada hal-hal positif, (6) penanaman disiplin diri. Ketrampilan mengelola kelas memiliki komponen sebagai berikut: 1. Penciptaan dan pemeliharaan iklim pembelajaran yang optimal. a) Menunjukkan sikap tanggap dengan cara: memandang secara seksama, mendekati, memberikan pernyataan dan memberi reaksi terhadap gangguan di kelas. b) Membagi reaksi secara visual dan verbal. c) Memusatkan perhatian kelompok dengan cara menyiapkan peserta didik terhadap gangguan di kelas. d) Memberi petunjuk dan teguran secara jelas dan bijaksana. 2. Ketrampilan yang berhubungan dengan pengendalian kondisi belajar yang optimal, dengan cara: 1) Modifikasi perilaku: a) Mengajarkan perilaku baru dengan contoh dan pembiasaan. b) Meningkatkan perilaku yang baik melalui penguatan. c) Mengurangi perilaku buruk dengan hukuman. 2) Pengelolaan kelompok dengan cara (1) peningkatan kerjasama dan ketertiban, (2) menangani konflik dan memperkecil masalah yang timbul. 3) Menemukan dan mengatasi perilaku yang menimbulkan masalah: a) Pengabaian yang direncanakan. b) Campur tangan dengan isyarat. c) Mengawasi secara ketat. d) Mengakui perasaan negatif peserta didik. e) Mendorong peserta didik untuk mengungkapkan perasaannya f) Menghilangkan ketegangan dengan belajar dan mengekang secara fisik. Ada asumsi bahwa manajemen kelas yang baik merupakan hasil sadar atas peranan guru untuk mengintegrasikan manajemen interaksi (belajar mengajar) dengan perencanaan interaksi pengajaran. Perpaduan ini seringkali menghasilkan persoalan dalam masalah disiplin. Interaksi belajar mengajar dan manajemen hakikatnya tidak terpisah, tetapi lebih merupakan dua komponen utama yang harus dibangun satu dengan lainnya jika menginginkan tercapainya kelas yang harmonis. Ketrampilan guru yang efektif akan mengawasi perilaku murid dengan waktu yang baik, dengan memberikan pertanyaan yang baik, atau jenis pengalaman pembelajaran. Pengawasan itu justru bisa efektif sebagai tindakan manajemen kelas secara langsung. Meskipun pengajaran dan manajemen dilakukan berbeda, keduanya saling melengkapi dan berinteraksi dalam cara-cara yang produktif. Guru menyusun perencanaan pengajaran. Selanjutnya memimpin dalam proses pengajaran, memotivasi dalam belajar, dan selanjutnya mengawasi atau mengevaluasi hasil belajar. Semua itu adalah tindakan manajemen kelas yang dipadukan untuk mencapai efektifitas pembelajaran.
02.23 | 0 komentar | Read More