Hargailah Masa

myFriends

M-edukasi

www.m-edukasi.web.id blog guru
Sahabat Edukasi CMS Formulasi Flag Counter

advertisement

Bantu Kami Mengembangkan Website Ini Dengan Satu Kali Klik Iklan DiBawah Ini. Terimakasih

.
.
۞Aksara Senja۞. Diberdayakan oleh Blogger.
Tampilkan postingan dengan label Pedidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pedidikan. Tampilkan semua postingan

EFEKTIVITAS METODE IQRO DALAM PEMBELAJARAN MEMBACA AL-QUR’AN

Written By Unknown on Sabtu, 23 November 2013 | 19.41

Oleh: Drs. H. Mangun Budiyanto


  1. I. Pendahuluan
Sebagaimana dikatakan oleh Mahmud Yunus (1979: 34) dan Kafrawi (1978: 17) secara historis pembelajaran Al-Qur’an di Indonesia tumbuh dan tersebar beriringan dengan tersebarnya agama Islam. Sebab di mana ada umat Islam, sudah dipastikan segera diikuti oleh berdirinya masjid atau mushalla, yang disamping sebagai tempat ibadah, juga sekaligus sebagai sentral pengajian, baik pengajian anak-anak, remaja, dewasa, orangtua, maupun pengajian umum.
Khusus untuk pengajian anak-anak, umumnya diselenggarakan tiap malam hari sesudah shalat berjama’ah maghrib, dengan materi membaca              Al-Qur’an, ibadah praktis, keimanan dan akhlak. Untuk pembelajaran membaca Al-Qur’an, umumnya dipergunakan kitab “Juz ‘Amma” yang di Jawa dikenal dengan istilah “turutan” atau kaidah Baghdadiyah. Cara mengajarkannya dimulai dengan mengenalkan huruf-huruf hijaiyah, kemudian tanda-tanda bacanya dengan dieja/diurai secara pelan. Setelah menguasai barulah diajarkan membaca QS. Al-Fatehah, An-Nas, Al-Falaq, Al-Ikhlas, dan seterusnya. Setelah selesai Juz ‘Amma, maka dimulai membaca Al-Qur’an pada mushaf, dimulai juz pertama sampai tamat.
Dari waktu ke waktu, dari generasi ke generasi, pengajian anak-anak terus menyebar dalam jumlah besar merata di seluruh pelosok tanah air. Berkat pengajian anak-anaklah maka kemudian umat Islam, dari generasi ke generasi berikutnya, mampu membaca Al-Qur’an dan mengetahui dasar-dasar keislaman.
Namun seiring dengan perkembangan zaman dan kemajuan iptek, sistem pengajian “tradisional” dan metode pembelajaran dengan kaidah Baghdadiyah yang demikian jadi kurang menarik. Anak-anak lebih tahan duduk berjam-jam di depan TV daripada duduk setengah jam di depan guru ngaji. Akibatnya, harus dibutuhkan waktu 2 – 5 tahun untuk bisa memiliki kemampuan membaca Al-Qur’an (Mahmud Yunus, 1979: 35). Akibat lebih lanjut adalah semakin banyak terlihat anak-anak muda Islam yang tidak memiliki kemampuan membaca Al-Qur’an. Hal yang demikian sungguh memprihatinkan!
Di tengah keprihatinan ini ternyata mendorong banyak ahli untuk mencari berbagai solusi pemecahannya. Maka sejak tahun 1980-an di Indonesia bermunculan ide-ide dan usaha untuk melakukan pembaruan sistem dan metode pembelajaran membaca Al-Qur’an ini. Diantara tokoh pembaru yang cukup menonjol adalah KH. As’ad Humam dari Kotagede Yogyakarta.
KH. As’ad Humum bersama kawan-kawannya yang dihimpun dalam wadah Team Tadarus Angkatan Muda Masjid dan Mushalla (Team Tadarus “AMM”) Yogyakarta, telah mencari bentuk baru bagi sistem pengelolaan pengajian anak-anak dan metode pembelajaran membaca Al-Qur’an. Setelah melalui studi banding dan ujicoba, maka pada tanggal 21 Rajab 1408 H, bertepatan dengan tanggal 16 Maret 1988, didirikanlah Taman Kanak-Kanak Al-Qur’an (TKA) “AMM” Yogyakarta. Setahun kemudian, tepatnya tanggal 16 Ramadlan 1409 H (23 April 1989) didirikan pula Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA) “AMM” Yogyakarta. Antara TKA dan TPA tidaklah memiliki perbedaan dalam sistem, keduanya hanya berbeda dalam hal usia anak didiknya. TKA untuk anak usia TKA (4,0 – 6,0 tahun) sedangkan TPA, untuk anak usia SD (7,0 – 12,0 tahun). (As’ad Humam, dkk, 1995: 3-4).
Bersamaan dengan didirikannya TKA-TPA, KH. As’ad Humam tekun menulis dan menyusun buku Iqro’, Cara Cepat Belajar Membaca Al-Qur’an, yang kemudian lebih dikenal  sebagai “Metode Iqro’”. Metode ini ternyata, menurut informasi berbagai pihak, telah sanggup membawa anak-anak lebih  mudah dan lebih cepat dalam belajar membaca Al-Qur’an. Namun benarkah demikian?
Tulisan dalam makalah ini akan mencoba menjawab pertanyaan di atas. Sejauhmana efektivitas metode Iqro’ melalui sistem TKA-TPA ini dalam mengantarkan para anak didiknya memiliki kemampuan dalam membaca               Al-Qur’an? Jawabannya tentu diperlukan melihat dari dekat TKA-TPA “AMM” Kotagede Yogyakarta, yang merupakan sumber awal dari sistem dan metode baru ini.
  1. II. Gambaran Umum TKA-TPA “AMM”
TKA-TPA “AMM” ini terletak di Kampung Selokraman, suatu kampung di pinggiran kota Yogyakarta yang berbatasan langsung dengan wilayah Kabupaten Bantul. Selokraman ini masuk wilayah Kalurahan Purbayan, Kecamatan Kotagede Yogyakarta. Di Kotagede inilah dulunya Kerajaan Islam Mataram berpusat sebelum kemudian berpindah ke tengah-tengah kota Yogyakarta yang sekarang ini.
Pada awal berdirinya (1988), TKA-TPA “AMM” ini belum memiliki gedung sendiri. Mula-mula hanya menempati beberapa ruang (salah satunya adalah ruang garasi) dari rumah milik pribadi KH. As’ad Humam. Baru kemudian pada tahun 1991 bisa membangun sebuah gedung yang memiliki 15 ruang, 4 ruang diantaranya berada di lantai 2. 11 ruang untuk kegiatan belajar (ruang kelas), 2 ruang untuk kantor, 1 ruang untuk sekretariat Team Tadarus “AMM” dan 1 ruang untuk sekretariat Team Tadarus “AMM” dan 1 ruang untuk ruang tamu. Di sebelah kiri ruang-ruang kelas terdapat kamar kecil dan halaman samping, sedang di depan gedung terdapat halaman yang cukup luas untuk bermain dan upacara.
Di samping memiliki gedung dengan 15 ruang di atas, TKA-TPA “AMM” juga didukung oleh fasilitas gedung lain yang juga dimanfaatkan untuk kegiatan, yaitu (1) gedung pertemuan berlantai 2 yang bisa menampung 500 orang, (2) Wisma “AMM” yang bisa menampung 100 orang tamu, (3) halaman Wisma “AMM” yang bisa digunakan parkir 300 kendaraan roda 2, (4) masjid yang bisa menampung 750 orang, dan (5) halaman masjid yang bisa dimanfaatkan untuk parkir 75 kendaraan roda 2.
Sebagai suatu sistem pendidikan, TKA-TPA “AMM” telah merumuskan tujuan pendidikan yang ingin dicapainya. Dalam buku kecil terbarunya (H.M. Budiyanto, dkk, 2007: 4), disebutkan bahwa tujuan pendidikannya adalah menyiapkan terbentuknya generasi qur’ani, yaitu generasi yang memiliki komitmen terhadap Al-Qur’an sebagai sumber perilaku, pijakan hidup dan rujukan segala urusannya. Hal ini ditandai dengan kecintaan yang mendalam terhadap Al-Qur’an, mampu dan rajin membacanya, terus menerus mempelajari isi kandungannya, dan memiliki kemauan yang kuat untuk mengamalkannya secara kaffah dalam kehidupan sehari-hari.
Demi tercapainya tujuan pendidikan yang cukup ideal ini, Team Tadarus “AMM” saat ini telah menyusun 5 jenjang pendidikan, yang masing-masing jenjang telah merumuskan target-target yang harus dicapai. Kelima jenjang itu adalah:
Masing-masing jenjang diprogramkan untuk masa 1 (satu) tahun dengan target masing-masing yang telah dirumuskan secara sistematis. Untuk TKA-TPA sebagai jenjang pertama, ada 3 target pokok yang ingin dicapai, yaitu santri mampu: (1) membaca Al-Qur’an sesuai kaidah ilmu tajwid dengan baik dan benar, (2) melakukan praktek wudlu dan shalat, (3) hafal bacaan shalat. Di samping target pokok dirumuskan pula adanya target penunjang, yaitu: (1) hafal 15 do’a sehari-hari, (2) hafal 13 surat pendek, (3) hafal 2 kelompok ayat pilihan, (4) bisa menulis ayat Al-Qur’an, (5) memiliki dasar-dasar akidah yang benar dan akhlak mulia, dan (6) membiasakan berinfak.
Untuk tahun ajaran 2008/2009 saat ini, Team Tadarus “AMM” memiliki 407 santri, dengan perincian sebagai berikut:
No Unit Putra Putri Jumlah
1. 2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
TKA TPA
TKA Lanjutan
TPA Lanjutan
Pra TQA (Tahfidz Juz ‘Amma)
TQA (Tafhim Juz ‘Amma)
TQA (Maudlu’iyah)
TQA (Tartibiyah)
80 34
35
32
14
15
4
-
60 41
31
19
23
14
5
-
140 75
66
51
37
29
9
0

Jumlah 214 193 407
Dari jumlah 407 anak tersebut, saat ini diasuh oleh 34 orang guru, yang terdiri dari 8 orang guru laki-laki (ustadz) dan 26 orang guru perempuan (ustadzah). 25 orang guru (73,50%) berusia antara 21-30 tahun, sedang pendidikan mereka mayoritas (21 orang = 63%) berpendidikan Sarjana (S1).
Khusus untuk santri TKA-TPA, sebagaimana terlihat pada tabel di atas, saat ini berjumlah 215 anak, yang terdiri dari 140 anak santri TKA, sedang santri TPA-nya sebanyak 75 anak. Mereka masuk tiap hari (selain Jum’at) yang terbagi dalam 2 shif. Shif pertama masuk jam 14.30-15.30 dan dilanjutkan shalat ashar berjama’ah, sedang shif kedua masuk jam 16.00-17.00 dan sebelumnya diawali dengan shalat berjama’ah ashar. Pembagian shif ini dilakukan atas pertimbangan keterbatasan ruang dan ustadz.
Sedang waktu yang 60 menit tiap hari masuk itu digunakan:
Durasi (menit) Keterangan
a. 05 : Pembukaan (persiapan, salam, do’a dan presensi)
b. 15 : Klassikal I (bacaan sholat, etika dan do’a sehari-hari, surat-surat pendek dan ayat pilihan)
c. 25 : Privat (proses pembelajaran baca Al-Qur’an dengan buku Iqro’ dan menulis)
d. 10 : Klassikal II (hadits/mahfudzot tentang akidah akhlak yang disampaikan dengan BCM)
e. 05 : Penutup (do’a, baca ikrar, pesan-pesan dan berinfak)
Catatan: Untuk praktek wudlu dan sholat berjamaah dilaksanakan
di luar jam pelajaran
Dan bila dibuat struktur kurikulum TKA-TPA tiap minggunya, maka akan terlihat sebagai berikut:
No Mata Pelajaran Smt I Smt II Jml
1. Pembelajaran Iqro’/tadarus Al-Qur’an secara privat dan menulis 6 6 12
2. Bacaan sholat dan surat-surat pendek 4 4 8
3. Etika dan do’a sehari-hari 3 3 6
4. Ayat-ayat pilihan 2 2 4
5. Hadits/mahfudzot tentang akidah akhlak (BCM) 3 3 6
6. Praktek wudlu, sholat (berjamaah) dan berinfak 5 5 10

Jumlah 23 23 46


  1. III. Metode Pembelajaran Membaca Al-Qur’an
Dari uraian di atas sudah terlihat bahwa pembelajaran membaca               Al-Qur’an diberikan di jenjang TKA-TPA dengan sistem privat. Baik TKA maupun TPA, santri dikelompokkan dalam kelas-kelas, setiap kelas antara 15-25 anak, ada seorang wali kelas dan dibantu oleh beberapa orang ustadz/ ustadzah privat. Jumlah ustadz privat tiap kelas disesuaikan dengan jumlah santri dalam kelas tersebut, dengan perbandingan tiap 6 santri diperlukan 1 ustadz/ustadzah. Sebagai panduan (buku pegangan) dalam pembelajaran membaca Al-Qur’an adalah buku Iqro’ yang terdiri dari jilid 1-6.
Masing-masing ustadz mengajar para santri secara bergantian satu persatu dengan prinsip CBSA (Cara Belajar Siswa Aktif), maksudnya santrilah yang aktif membaca lembaran-lembaran buku Iqro’ yang telah disusun secara sistematis dan praktis, sedangkan ustadz hanya menerangkan pokok-pokok pelajarannya dan menyimak (memperhatikan) bacaan santri satu persatu. Karena sifatnya yang individual, maka tingkat kemampuan dan hasil yang dicapai oleh masing-masing santri dalam satu kelas tidaklah sama.
Cara mengajarkan buku Iqro’ haruslah disesuaikan dengan petunjuk pengajaran yang telah digariskan oleh KH. As’ad Humam sebagai penyusun buku Iqro’. Ada 14 hal penting sebagai “Kunci Sukses Pengajaran Buku Iqro” (As’ad Humam, dkk, 2001: 97-98), yaitu:
  1. CBSA (Cara Belajar Siswa Aktif), guru menerangkan pokok bahasan, setelah itu santri aktif membaca sendiri, guru sebagai penyimak saja, jangan sampai menuntun, kecuali hanya memberikan contoh saja.
  2. Privat. Penyimakan seorang demi seorang secara bergantian. Bila klasikal (di sekolah formal atau di TPA yang kekurangan guru) menggunakan IQRO’ Klasikal yang dilengkapi dengan alat peraga IQRO’ Klasikal.
  3. Asistensi. Santri yang lebih tinggi pelajarannya dapat membantu menyimak santri lain.
  4. Mengenai judul-judul, guru langsung memberi contoh bacaannya, jadi tidak perlu banyak penjelasan. Santri tidak dikenalkan istilah fathah, tanwin, sukun dan seterusnya. Yang penting santri betul bacaannya.
  5. Komunikatif. Setiap huruf/kata dibaca betul, guru jangan diam saja, tetapi agar memberikan perhatian/sanjungan/penghargaan. Umpamanya dengan kata-kata: Bagus, Betul, Ya, dan sebagainya.
  6. Sekali huruf dibaca betul jangan diulang lagi.
  7. Bila santri keliru baca huruf, cukup betulkan huuf-huruf yang keliru saja dengan cara:
-          Isyarah, umpamanya dengan kata-kata “Eee, awas, stop” dan lain sebagainya
-          Bila dengan isyarah masih tetap keliru, berilah titian ingatan
-          Bila masih lupa, barulah ditunjukkan bacaan yang sebenarnya
-          Bila santri keliru baca di tengah/di akhir kalimat, maka betulkanlah yang keliru itu saja, membacanya tidak perlu diulang dari awal kalimat. Nah setelah selesai sehalaman, agar mengulang pada kalimat yang ada kekeliruan tersebut.
  1. Bagi santri yang betul-betul menguasai pelajaran dan sekiranya mampu dipacu, maka membacanya boleh diloncat-loncatkan, tidak perlu utuh tiap halaman.
  2. Bila santri sering memanjangkan bacaan (yang semestinya pendek) karena mungkin sambil mengingat-ingat huruf di depannya, maka tegurlah dengan “Membacanya putus-putus saja!” dan kalau perlu huruf didepannya ditutup dulu agar tidak berpikir.
  3. Santri jangan diajari dengan irama yang berlagu walaupun dengan irama tartil, sebab akan membebani santri yang belum saatnya diajarkan membaca irama tertentu. Sedangkan irama bacaan tartil dalam kaset yang dikeluarkan Team Tadarus “AMM” dimaksud untuk pengajaran MATERI HAFALAN dan ketika sudah bertadarus Al-Qur’an. Jadi tidak untuk pengajaran buku IQRO’.
  4. Bila ada santri yang sama tingkat pelajarannya, boleh dengan sistem tadarus, secara bergilir membaca sekitar 2 baris sedang lainnya menyimak.
  5. Untuk EBTA sebaiknya ditentukan ditunjuk guru penguji khusus supaya standarnya tetap dan sama.
  6. Pengajaan buku IQRO’ (jilid 1 s/d 6) sudah dengan pelajaran tajwid yaitu tajwid praktis, artinya santri akan bisa membaca dengan benar sesuai dengan ilmu tajwid. Sedangkan ilmu tajwid itu sendiri (seperti istilah idghom, ikhfa’, macam-macam mad, sifat-sifat huruf dan sebagainya) diajarkan setelah lancar tadarus  Al-Qur’an beberapa juz.
  7. Syarat kesuksesan, disamping menguasai/menghayati petunjuk mengajar, mesti saja guru fasih dan tartil mengajarnya.
  1. IV. Efektivitas Metode Pembelajaran Iqro’
Telah disebutkan diatas bahwa pembelajaran membaca Al-Qur’an di TKA-TPA “AMM” ini sepenuhnya menggunakan buku Iqro’ lengkap dengan metodologi yang telah digariskan oleh penyusunnya, serta penerapannya dibimbing dan diawasi oleh Pengurus Team Tadarus “AMM”. Pertanyaan berikutnya adalah sejauhmana efektivitasnya?
Untuk menjawab pertanyaan ini, diperlukan penelitian untuk mengetahui kecepatan para santri dalam menyelesaikan buku Iqro’ jilid 1 s/d 6 di TKA-TPA “AMM” ini. Jilid 1 adalah merupakan awal seorang santri memulai belajar membaca Al-Qur’an, sedang jilid 6 adalah sebagai tanda seorang santri telah mampu membaca Al-Qur’an.
Saat penelitian ini dilakukan, Maret 2009 TKA-TPA “AMM” baru saja melaksanakan pembagian rapor semester gasal tahun pembelajaran 2008-2009. Semester gasal berlangsung selama 6 bulan, yaitu sejak tanggal 15 September 2008 s/d 15 Februari 2009. Pertanyaannya adalah bagaimana kondisi kemampuan para santri dalam membaca Iqro’ setelah mereka belajar selama 1 (satu) semester ini? Jawaban pertanyaan ini tentu harus melihat pada TKA-TPA. Karena TKA-TPA adalah jenjang pertama (jenjang Iqro’). (Wawancara dengan Muakhiroh, S.Pd.I., Direktur TKA-TPA “AMM”, Senin, 23 Maret 2009)


Klasifikasi Kemampuan Membaca Iqro’
Santri TKA-TPA “AMM” (setelah 6 bulan belajar)
No Tingkatan Jilid TKA N=140 % TPA N=75 % Jumlah N=215 %
1. Jilid 1 10 7,14 % 1 1,33 % 11 5,12 %
2. Jilid 2 20 14,28 % 5 6,67 % 25 11,63 %
3. Jilid 3 40 28,57 % 16 21,33 % 56 26,05 %
4. Jilid 4 37 26,43 % 22 29,34 % 59 27,44 %
5. Jilid 5 11 7,86 % 13 17,33 % 24 11,16 %
6. Jilid 6 17 12,14 % 13 17,33 % 30 13,95 %
7. Al-Qur’an 5 3,58 % 5 6,67 % 10 4,65 %

Jumlah 140 100 % 75 100 % 221 100 %
Dari tabel di atas dapat diketahui bahwa dalam waktu 6 bulan, pencapaian kemampuan membaca Iqro’ untuk santri TKA dengan TPA berbeda. Dari 140 santri TKA, yang telah menyelesaikan Iqro’ 1-3 ternyata hanya separohnya, yaitu ada 70 anak (50 %) dan yang 70 anak (50 %) masih berada pada Iqro’: 1-3. Dengan demikian, bisa diprediksikan bahwa untuk TKA, target 1 (satu) tahun telah mampu membaca Al-Qur’an tidak akan tercapai. Artinya, untuk TKA diprediksikan masih diperlukan tambahan waktu untuk menuntaskan 140 santri (100 %) memiliki kemampuan membaca Al-Qur’an. Namun demikian, ternyata telah terdapat 5 anak (3,58 %) yang telah mengkhatamkan Iqro’: 1-6 dan akan segera disusul oleh 17 anak (12,14 %) yang sekarang sudah memasuki Iqro’: 6.
Sedang untuk TPA, dari 75 santri yang ada, dalam waktu 6 bulan mayoritas dari mereka (53 anak = 70,66 %) telah bisa menyelesaikan buku Iqro’: 1-3 dan hanya 22 anak (29,34 %) yang belum bisa memasuki Iqro’: 4. Ini berarti, mayoritas santri TPA akan bisa menyelesaikan buku Iqro’: 1-6 dalam waktu 1 (satu) tahun, sesuai dengan target yang ditentukan. Bahkan terdapat 5 anak           (6,67 %) yang telah mengkhatamkan Iqro’: 1-6 dan akan segera disusul oleh 13 anak (17,33 %) yang sekarang sudah memasuki Iqro’: 6. Dengan perkataan lain untuk anak usia SD, dengan sistem TPA dan metode Iqro’, akan bisa diantarkan memiliki kemampuan membaca Al-Qur’an dalam waktu 6-12 bulan.
Yang menarik dari data di atas, ternyata masih ada 10 anak (7,14 %) TKA dan 1 (satu) anak (1,33 %) TPA yang belum beranjak dari Iqro’: 1. Mengapa hal ini bisa terjadi? Setelah ditelusuri pada daftar absensi, ternyata ke 11 anak ini sehari-hari memang tidak begitu aktif mengikuti pelajaran. Dari ke 11 anak ini kehadirannya tidak ada yang lebih dari 50 %. Sehingga wajar kalau mereka tertinggal.
Di atas telah dipaparkan kondisi setelah 6 bulan santri belajar Iqro’ di TKA-TPA dan belum memberikan gambaran kecepatan santri TKA-TPA dalam menyelesaikan Iqro’: 1-6. Untuk mengetahui hal ini, perlu melihat kembali dokumentasi yang ada pada santri yang sekarang duduk di TKAL-TPAL. Berapa bulan sebenarnya, waktu yang harus mereka habiskan untuk bisa menyelesaikan Iqro’: 1-6 pada saat mereka duduk di TKA-TPA setahun yang lalu?
Jumlah santri TKAL sekarang ini ada 66 anak, yang terdiri dari 35 santri putra dan 31 santri putri. Sedang jumlah santari TPAL sekarang ini ada 51 anak, yang terdiri dari 32 santri putra dan 19 santri putri. Sehingga jumlah santri TKAL-TPAL keseluruhannya ada 117 santri.
Setelah melihat kembali dokumentasi kecepatan 117 santri dalam menyelesaikan buku Iqro’: 1-6 dapat dibuat tabel sebagai berikut:
Kecepatan Santri TKA-TPA Tahun 2007/2008
dalam Menyelesaikan Iqro’: 1-6
No Tingkatan Jilid TKAL N=66 % TPAL N=51 % Jumlah N=117 %
1. 1 – 2 bl 0 0 % 0 0 % 0 0 %
2. 3 – 4 bl 0 0 % 0 0 % 0 0 %
3. 5 – 6 bl 4 6,06 % 6 11,76 % 10 8,55 %
4. 7 – 8 bl 7 10,60 % 7 13,73 % 14 11,97 %
5. 9 – 10 bl 11 16,67 % 12 23,53 % 23 19,66 %
6. 11 – 12 bl 14 21,21 % 18 35,30 % 32 27,35 %
7. 13 – 14 bl 13 19,70 % 4 7,84 % 17 14,53 %
8. 15 – 16 bl 4 6,06 % 1 1,96 % 5 4,28 %
9. 17 – 18 bl 7 10,60 % 0 0 % 7 5,98 %
10. 19 – 20 bl 2 3,03 % 0 0 % 2 1,71 %
11. 21 – 22 bl 0 0 % 1 1,96 % 1 0,85 %
12. 23 – 24 bl 1 1,52 % 2 3,92 % 3 2,56 %
13. Lebih 24 bl 3 4,55 % 0 0 % 3 2,56 %

Jumlah 66 100 % 51 100 % 117 100 %
(Diolah dari dokumentasi “Kartu Prestasi Iqro” tahun 2007/2008, dikutip, Senin, 23 Maret 2009)
Dari tabel di atas dapat diketahui bahwa:
  1. Walaupun awal mulainya dalam waktu yang sama, namun ternyata dalam menyelesaikan buku Iqro’nya, bisa sangat bervariasi. Ada yang bisa menyelesaikan dalam waktu kurang dari 6 bulan (1 semester), namun ada yang lebih dari 24 bulan (4 semester). Hal ini sangat dimungkinkan, karena TKA-TPA dalam mengajarkan Iqro menggunakan sistem privat (sorogan). Sehingga santri yang cerdas dan rajin masuk akan lebih cepat selesai dan tidak menunggu santri yang kurang cerdas dan kurang rajin masuk.
  2. Dengan sistem TKA-TPA dan metode Iqro’ ternyata memungkinkan seorang santri lebih cepat mampu membaca Al-Qur’an. Terbukti dalam waktu tidak lebih dari 6 bulan, sudah terdapat 10 anak dari 117 anak (8,55 %) yang telah memiliki kemampuan membaca Al-Qur’an. 10 anak tersebut, 4 anak diantaranya masih usia TK sedang yang 6 anak berusia SD Kelas 1-3.
  3. Terdapat perbedaan yang signifikan antara anak usia TK (4,0 – 6,0 tahun) dan anak usia SD (7,0 – 9,0 tahun) dalam kecepatan menyelesaikan buku Iqro’. Melalui TK Al-Qur’an, dalam waktu 12 bulan baru terdapat 36 anak dari 66 anak (54,55 %) yang mampu menyelesaikan Iqro’ : 1-6, dan dibutuhkan waktu 18 bulan (3 semester) untuk bisa mencapai angka 89,39 % (59 anak dari 66 anak). Bahkan harus dibutuhkan waktu lebih dari 2 tahun untuk bisa menuntaskan seluruh anak usia TK tersebut bisa menyelesaikan Iqro’: 1-6. Hal ini bisa dimengerti karena memang mereka masih usia TK, suatu usia yang oleh banyak pihak diragukan kemampuannya untuk diajar membaca.
  4. Berbeda dengan anak usia TK, anak usia SD ternyata lebih cepat dalam menyelesaikan Iqro’. Dalam waktu 6 bulan, tercatat ada 6 anak dari 51 anak (11,76 %) yang telah bisa menyelesaikan Iqro’: 1-6. Kemudian dalam waktu 12 bulan, mayoritas dari mereka (43 dari 51 anak/84,31 %) telah mampu menyelesaikan Iqro’: 1-6. Sedangkan untuk anak usia TK, dalam waktu yang sama hanya mencapai angka 54,55 %.
Dari uraian di atas dapat diketahui efektivitas metode Iqro’ melalui sistem TKA-TPA. Bagi anak usia TK (4,0 – 6,0 tahun), terbukti mampu diantarkan memiliki kemampuan membaca Al-Qur’an dalam waktu antara 6,0 – 18,0 bulan (89,39 %), sedang bagi anak usia SD (7,0 – 9,0 tahun) bisa lebih cepat lagi, yaitu dalam waktu antara 6,0 – 12,0 bulan (84 %). Waktu yang relatif cepat bila dibandingkan dengan metode (kaidah) Baghdadiyah melalui sistem pengajian tradisional, yang memerlukan waktu antara 2 – 5 tahun. (Mahmud Yunus, 1979: 35)
  1. V. Hambatan Yang Dihadapi
Hasil prestasi di atas, mestinya bisa lebih ditingkatkan lagi andaikan tidak terhambat oleh 2 faktor utama, yaitu:
  1. Rendahnya prosentase kehadiran para santri. Hal ini bisa dilihat pada daftar presensi yang menunjukkan bahwa prosentase rata-rata kehadiran para santri sangat rendah. Padahal keaktifan kehadiran sangat besar pengaruhnya terhadap keberhasilan suatu pendidikan. Betapapun baiknya seorang ustadz dan betapapun canggihnya suatu metode, kalau muridnya jarang hadir tentu hasilnya tidak akan optimal. Berikut ini disajikan tabel prosentase rata-rata kehadiran santri selama 1 (satu) semester yang lalu (September 2008 s/d Pebruari 2009).
Prosentase Rata-rata Kehadiran Santri
No Unit Sept (%) Oktt (%) Nop (%) Des (%) Jan (%) Peb (%) Komulatif 1 smt (%)
1. TKA 78 72 69 66 68 63 69,33
2. TPA 87 67 65 65 63 64 68,50

Jumlah Rata-rata 82,5 69,5 67,0 65,5 65,5 63,5 68,91
(Diolah dari Dokumentasi Daftar Presensi Kehadiran Santri TKA-TPA “AMM” Semester Gasal Tahun 2008/2009, dikutip Senin, 30 Maret 2009)
Tabel di atas menunjukkan bahwa dalam semester yang lalu (September 2008 s/d Pebruari 2009) keaktifan kehadiran santri TKA-TPA “AMM” hanya mencapai angka 68,91 %. Sebab ketidakhadiran yang paling utama adalah adanya berbarengan kegiatan di SD-nya, seperti pramuka, pelajaran tambahan, dan lain-lain. (Wawancara dengan Muakhiroh, S.Pd.I., Direktur TKA-TPA “AMM”, Senin, 23 Maret 2009). Para ustadz nampaknya tidak bisa “memaksa” agar para santri lebih mengutamakan TKA-TPA daripada kegiatan SD-nya.
  1. Kesulitan mencari ustadz/ustadzah yang fasih membaca Al-Qur’annya sekaligus memiliki kualifikasi akademik dibidang keguruan. (Wawancara dengan M. Najib, Pengurus Yayasan Team Tadarus “AMM” Yogyakarta, Ahad, 29 Maret 2009). Dari 34 orang ustadz/ustadzah yang ada, yang memiliki ijazah keguruan hanya ada 10 orang (29,41 %), dan itupun tidak ada yang memiliki ijazah keguruan dibidang pendidikan Al-Qur’an. Bahkan tercatat ada 11 orang ustadz/ustadzah (32,35 %) yang memiliki latar belakang pendidikan “non keagamaan”, seperti Sastra Jawa, Ekonomi, Ilmu Politik, Biologi, Pertanian, Tata Busana dan Listrik. Hal ini tentu berakibat kurang optimalnya hasil yang dicapai.
  1. VI. Penutup
Dari uraian di atas telah tergambar dengan jelas tingkat efektivitas metode Iqro’ dalam pembelajaran membaca Al-Qur’an di TKA-TPA “AMM” Kotagede Yogyakarta. Bagi anak usia TK (4,0 – 6,0 tahun) dalam waktu 6 – 18 bulan sudah mencapai angka 89,9% yang bisa diantarkan memiliki kemampuan membaca Al-Qur’an. Sedang untuk anak usia SD (mayoritas usia 7,0 – 9,0 tahun) ternyata lebih cepat lagi. Dalam waktu 12 bulan, mayoritas dari mereka (84,31%) telah lancar membaca al-Qur’an. Waktu yang relatif cepat bila dibandingkan dengan metode (kaidah) Baghdadiyah melalui sistem pengajian “tradisional” yang memerlukan waktu 2 – 5 tahun.

19.41 | 0 komentar | Read More

K.H. As’ad Humam "Bapak Penemu Metode Iqro"



Aku yakin mayoritas rakyat di seluruh Indonesia yang pernah menjadi seorang muslim, apalagi masih muslim sejak lahir hingga sekarang mengenal Iqro’. Dan aku juga yakin kita semua tidak terlalu asing dengan seorang tokoh bernama K.H. As’ad Humam, penemu metode Iqro’.
Melalui metode Iqro’ itulah aku belajar membaca tulisan arab Dan al Quran hingga akhirnya bisa membaca Al Quran sampai sekarang. Aku pun yakin kamu juga bisa membaca Al Quran seperti sekarang ini juga menggunakan media belajar buku Iqro’. Sungguh betapa besar amal jariyah K.H. As’ad Humam yang melalui buku metode penemuannya jutaan umat di Indonesia akhirnya bisa membaca Al Quran. Secara tidak langsung, beliau memiliki murid jutaan -salah satunya aku Dan kamu- yang tersebar di seluruh pelosok Indonesia bahkan hingga ke Malaysia Dan Singapura sehingga memperoleh kebaikan serta barokah atas ilmu yang beliau ajarkan kepada kita semua. Memang benar sabda Rasulullah SAW bahwa ilmu yang bermanfaat bakal menjadikan si-empunya ilmu memperoleh kebaikan yang terus menerus seperti air yang mengalir tak pernah kering. Ini pula lah yang dapat dirasakan atas apa yang telah diwariskan K.H. As’ad Humam.
Tak banyak orang yang mengenal K.H. As’ad Humam memang. K.H. As’ad Humam lahir pada tahun 1933. Beliau mengalami cacat fisik sejak remaja. Beliau juga bukan seorang akademisi atau kalangan terdidik lulusan Pesantren atau Sekolah Tinggi Islam, beliau hanya lulusan kelas 2 Madrasah Mualimin Muhammadiyah Yogyakarta (Setingkat SMP).

Dalam kurun waktu 14 tahun  tidak terasa telah terlewati untuk mengingat kembali bapak penemu metoda praktis membaca Al-Qur’an. Dimana karya besanya tidak hanya menjadi aset nasional, malah menjadi asset  negara-negara jiran, bahkan sampai ke Eropa dan belahan dunia lainnya.
Karya yang fenomenal itu tentu menjadi cambuk bagi generasi Qur’ani, khususnya para Sarjana praktisi Ilmu Al-Qur’an dan para da’i/ustadz serta  intelektual muslim, apalagi para “petualang politik Islam”  yang terkadang lebih suka mencari identitas Islam secara tematik belaka dengan tujuan komersial. Seberapa besar kita telah memeberikan konstribusi terhadap bangsa khususnya lingkungan masyaakat tempat tinggal kita dalam meningkatkan pemberdayaan anak dan cucu di masa sekarang dan di masa yan akan datang dalam hal membaca Al-Qur’an?
Tentu dimulai dari yang sederhana, berantas  dulu buta huruf Al-Qur’an. Dimana anak secara gradual bisa membaca Al-Qur’an dengan fasikh dan mengenal huruf serta barisnya. Lalu ditingkatkan pada kemampuan menerjemahkan kata perkata dan ayat perayat. Setelah itu baru ke penguasaan tafsir untuk kemudian diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari.
Ada kelebihan dan kekurangan dari metode Iqro karya besa KH. As’ad Humam. Kelebihannya, anak setelah belajar dengan metode Iqro  dapat lebh cepat membaca lafadz perlafadz, lalu ayat per ayat. Namun ada PR bagi para ustadz/ustadza,  bagaimana meminimalisir tingkat verbalistik anak (ia cakap membaca, namun masih banyak yang  tidak mengenal huruf)?
Demikian juga menjadi PR bagi para ulama dan intelek muslim, masih banyak pula umat yang begitu semangat menukil ayat-ayat tertentu untuk memback-upi kepentingannya, padahal bacaan dia masih blepotan, sedangkan retorika membahas suatu masalah begitu latah dengan dasar ayat-ayat Al-Qur’an yang hanya kutipan-kutipan kecil bahkan hanya berupa terjemah.
Sosok
Pria yang lahir tahun 1933 yang cacat fisik sejak remaja ini ternyata  sebagai penemu Metode Iqro yang menghebohkan banyak kalangan. Banyak para penguji  mencoba  mengadakan pengujian terhadap keakuratan  metode ini. Ternyata karena selain sererhana dengan metode iqro sangat mudah mempelajari Al-Qur’an.
Bagi kebanyakan umat Islam Indonesia, nama K.H. As’ad Humam sudah tidak asing lagi karena karyanya berupa metode praktis membaca Al-Qur’an serta lembaga pendidikan TKA (Taman Kanak-kanak Alqur’an) dan TPA (Taman Pendidikan AlQur’an) telah menyebar keseluruh Indonesia, ke Malaysia dan mancanegara lainnya. Bahkan di Malaysia metode Iqro ditetapkan sebagai kurikulum wajib di sekolah.
Sebelum K.H. As’ad Humam meluncurkan metode Iqro’ memang sudah ada metode membaca Al-Qur’an yang dimanfaatkan oleh umat islam Indonesia antara lain dalam metode Juz Amma, methode  Al-Banjary, methode Al-Barqy dan banyak methode lainnya.  K.H. As’ad Humam dalam menyusun karyanya ini juga berdasarkan metode yang saudah ada sebelumnya. Tetapi begitu metode Iqro  muncul, sekitar tahun 1988 langsung mendapat sambutan hangat masyarakat. Sebab metode yang digunakan juga praktis dan membuat anak kecil bisa cepat menbaca Al-Qur’an dengan fasih dan tartil, padahal sebelumnya anak-anak seusia TK umumnya belum bisa membaca Al-Qur’an.

Metode Iqro -Go Publik
Dari waktu kewaktu metode Iqro semakin memasyarakat. Bukan saja masyarakat sekitar yang memanfaatkannya, tetapi merembet masyarakat pelosok di DIY, berbagai daerah di luar YID, bahkan akhirnya merembet ke seluruh Indonesia. Yang mempermudah persebaran metode ini antara lain karena keihklasan K.H. As’ad Humam dan para anak buahnya di sekretariat Team Tadarus AMM Kota Gede, yang merupakan markas dan cikal bakal TKA/TPA sebagai realisasi pengajaran metode Iqro terhadap masyarakat yang datang dan ingin memanfaatkan  metode ini.
“Siapa yang ingin memanfaatkan metode ini kita layani dengan baik sebelumnya mereka kita jelaskan atau istilah menterengnya kita tatar, mengenai penggunaan metode ini sekaligus mengenai manajemen yang harus diperhatiakn dalam pengelolaan TKA/TPA. Setelah peneataran kita anggap cukup, orang yang datang kita beri buku Irqo  untuk diamalkan didaerahnya  kata K.H. As’ad Humam kepada Panjimas pada suatu saat sambil menambahkan yang datang kesini untuk turut mengembangkan metodenya di seliruh Indonesia, termasuh mahasiswa.
Tak mengherankan kalu metode iqro berkembang pesat. Sampai saat ini (data penulis tahun 2007) tercatat 30 ribu TKA/ TPA. Dengan santri mencapai 6 juta lebih menerapkan metode ini. Bulan Juli tahun  1995  Presiden Soeharto mewisuda ribuan santri TKA/TPA. Wakil persiden juga melakukan hal yang serupa di Yogya dalam berbagai even misalnya MTQ juga acap menampilkan santri TKA yang mendemonstrasikan kemampuan mereka membaca Al-Qur’an.
Metode Iqro memang sudah diakui dan dimanfaatkan banyak orang. Pemerintah sendiri juga telah menganugrahkan  penghargaan kepada K.H. As’ad Humam atas hasil karyanya ini. Tahun 1991 Mentri Agama RI (waktu H Munawir Sjadzali MA. Menjadikan TKA /TPA yang didiriakn K.H. As’ad Humam di kampung Selokraman Kotagede Yogya sebagai balaii litbang LPTQ Nasional, yang berfungsi sebagai Balai Latihan dan pengembangan dan lembaga pengembangan Tilawatil Qur’an.
Mengenang Sejarah
Meski K.H. As’ad Humam sudah tiada namun karya nyata dan hasil rintisannya masih ada. Sampai kapanpun diharapkan  tetep langgeng abadi, bahkan semakin berkemban. Seoga ini merupakan salahsatu amal jariyahnya  yang buaknya akan dipetik diakhir nanti.
Pada awal Februari  tahun 1996 dalam usia 63 tahun  sang penemu metode ini  K.H. As’ad Humam  telah dipanggil Allah SWT. Dan menghembuskan nafas terakhirnya  di Bulan Suci Ramadhan hari Jum’at(2/2) sekitar Pukul 11:30 memang, dimana sejak 14 Desember tahun l1995  ia  telah sakit dan pernah diopname di Rumahsakit Muhammadiyah Yogyakarta sekitar 2 bulan.  Jenazah KH. As’ad Humam dishalatkan di mesjid Baiturahman Selokraman Kota Gede Yogya tempat ia mengabdi.
Pada saat pelepasan menuju tempat peristirahatan terakhir jenazah bapak 6 anak dan kakek 10 benar-benar dikenang masyarakat luas baik masyarakat Indonesia maupun mancanegara.
Hal ini terbukti pada sambutan Menteri Agama RI yang saat itu Dr. H. Tarmizi Taher  yang dibacakan Kakanwil Daerah Istimewa Yogyakarta Muhda Hadisaputro SH pada  saat upacara pemakaman. Ia menjelaskan dalam pidatonya bahwa  Hasil karya K.H. As’ad Humam benar-benar sudah go internasional. Lebih lanjut oleh Menag  RI dijelaskan Metode Iqro selain sudah diterapkan di beberapa negara tetangga, semacam Malaysia, Singapura dan Brunai Darusalam.juga sudah diterjemaahkan kedalam berbagai bahasa, bahkan dilakukan penjagaan penggunaannya oleh kalangan muslimin di Amerika Serikat.
Menurut Meneg, K.H. As’ad Humam yang hanya lulusan kelas 2 MadrasahMualimin Muhammadiyah Yogyakarta (Setinggi SMP)  ini juga bisa disebut “pahlawan”, yakni pahlawan penjaga kelestarian Al-Qur’an dan pahlawan yang telah membebaskan jutaan anak Indonesia dari buta Al-Qur’an. “Berkat hasil karyanya ini jutaan anak muslim Indonesia dengan mudah mempelajari Al-Qur;an.
Oleh karenanya, bapak penemu metode baca Al-Qur’an yang cukup cemerlang ini, mari kita kirimi do’a semoga mendapatkan Jannatun Naim, dan karyanya bermanfaat sepanjang masa. Bibarkati Ummul Qur’an “Alfaatihah”…

sumber
19.39 | 0 komentar | Read More

Pengertian dan Hakikat Inovasi Pendidikan

Written By Unknown on Selasa, 11 Desember 2012 | 16.42

Perubahan dan inovasi keduanya sama dalam hal memiliki unsur yang baru atau lain dari sebelumnya. Tetapi inovasi berbeda dari perubahan, karena dalam inovasi dalam unsur kesengajaan. Pembaharuan misalnya dalam hal pembaharuan kebijaksanaan pendidikan mengandung unsur kesenngajaan dan pada umumnya istilah pembaharuan dapat disamakan dengan inovasi (Suryo Subroto, 1990 : 127).

Secara etimologi inovasi berasal dari kata latin innovaation yang berarti pembaharuan dan perubahan. Kata kerjanya innovo yang artinya memperbarui dan mengubah. Inovasi ialah suatu perubahan baru yang menuju ke arah perbaikan dan berencana (tidak secara kebetulan saja) (Idris, Lisma Jamal 1992 : 70).

Di dalam kamus besar Bahasa Indonesia, Inovasi di artikan pemasukan satu pengenalan hal-hal yang baru; penemuan baru yang berbeda dari yang sudah ada atau yang sudah dikenal sebelumnya, yang (gagasan, metode atau alat) (tim penyusun kamus pusat pembinaan dan pengembangan bahasa, 1989:333).

Inovasi Pendidikan adalah inovasi dalam bidang pendidikan atau inovasi untuk memecahkan masalah pendidikan. Jadi inovasi pendidikan adalah suatu ide, barang, metode yang dirasakan atau diamati sebagai hal yang baru bagi seseorang atau sekelompok orang (masyarakat), baik berupa hasil inversi (penemuan baru) atau discovery (baru ditemukan orang), yang digunakan untuk mencapai tujuan pendidikan atau untuk memecahkan masalah yang dihadapi.

Selanjutnya dijelaskan bahwa sesuatu yang baru itu, mungkin sudah lama dikenal pada konteks sosial atau sesuatu itu sudah lama dikenal, tetapi belum dilakukan perubahan. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa inovasi adalah perubahan, tetapi tidak semua perubahan merupakan inovasi (Idris, Lisma Jamal, 1992 : 71).

Selain tersebut diatas ada satu lagi definisi tentang inovasi Pendidikan ialah suatu perubahan yang baru dan kualitatif berbeda dari hal (yang ada) sebelumnya dan sengaja diusahakan untuk meningkatkan kemampuan guna mencapai tujuan tertentu dalam pendidikan (Suryobroto, 1990 : 127).

Ada istilah yang menentukan (crucial) definisi ini yang perlu dijabarkan untuk memberikan pegangan bagi mereka yang akan meneliti, merencanakan, melaksanakan atau menilai inovasi dalam pendidikan.

Dimaksudkan “baru” dalam pengertian tersebut adalah apa saja yang belum dipahami, diterima atau dilaksanakan oleh si penerima inovasi, meskipun mungkin bukan merupakan hal yang baru lagi bagi orang lain.

Sedangkan “Kualitatif” berarti bahwa inovasi itu memungkinkan adanya reorganisasi atau pengaturan kembali dari pada unsur-unsur dalam pendidikan, jadi bukan semata-mata penjumlahan atau penambahan dari unsur-unsur komponen yang ada sebelumnya. Inovasi adalah lebih dari keseluruhan jumlah unsur-unsur komponen. Tindakan menambah anggaran belanja supaya dapat mengadakan lebih banyak murid, guru kelas, buku dan sebagainya meskipun perlu dan penting bukan merupakan tindakan inovasi. Tetapi tindakan mengatur kembali jenis dan pengelompokan pelajaran, waktu, ruang kelas, cara-cara menyampaikan pelajaran, sehingga dengan tenaga, alat uang dan waktu yang sama dapat dijangkau jumlah sasaran murid yang lebih banyak, dan dicapai kualitas yang lebih tinggi, itulah tindakan inovasi.

Dikarenakan besar dan kompleksnya masalah pendidikan kita sekarang, apabila pada masa mendatang, sementara itu mengingat keterbatasan dan kemampuan yang dimiliki, maka tindakan inovasi atau pembaharuan sangatlah diperlukan. Kendatipun demikian hal yang perlu diperhatikan adalah bahwa sesuatu yang baru belum tentu baik, maksudnya belum tentu inovatif.

“Hal” yang dimaksudkan dalam definisi tadi adalah banyak sekali meliputi semua komponen dan aspek dalam sub-sistem pendidikan. Yang diinovasi pada hakekatnya ialah ide atau rangkaian ide. Sementara inovasi, karena sifatnya tetap bercorak “mental” sedang yang lain dapat memperoleh bentuknya yang “nyata” termasuk hal yang diinovasikan ialah buah pikiran; metode dan teknik bekerja, mengatur, mendidik : perbuatan, peraturan norma; barang/alat.

Unsur “kesengajaan” merupakan perkembangan baru dalam pemikiran para pendidik dewasa ini. Pembatasan arti secara fungsional ini lebih banyak mengutarakan harapan kalangan pendidikan agar kita kembali pada “ajar” (learning) dan “pengajaran” (theacing) dan menghindarkan diri dari pembaharuan perkakas (gad getering).

Sebaliknya perlu sekali ditingkatkan teknologi sosial (social technology), secara sengaja dan berencana menciptakan kombinasi dari pada sarana-sarana yang paling ampuh (effective) untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Sering dipergunakan kata-kata dan dikembangkannya konsepsi-konsepsi pembaharuan pendidikan, dan kebijaksanaan serta strategi untuk melaksanakannya, membuktikannya adanya anggapan yang kuat, bahwa pembaharuan dan penyempurnaan pendidikan harus dilakukan secara sengaja dan berencana, dan tidak dapat dipasrahkan menurut cara-cara kebetulan, atau sekedar berdasarkan hobby perorangan belaka.




Dipublikasikan Oleh:
M. Asrori Ardiansyah, M.Pd
Pendidik di Malang

Sumber: www.kabar-pendidikan.blogspot.com, www.kmp-malang.com www.arminaperdana.blogspot.com
16.42 | 0 komentar | Read More

Tujuan Inovasi Pendidikan

Tujuan utama dari inovasi adalah berusaha meningkatkan kemampuan, yakni kemampuan dari sumber-sumber tenaga, uang, sarana dan prasarana, termasuk struktur dan prosedur organisasi. Jadi keseluruhan sistem perlu ditingkatkan agar semua tujuan yang telah direncanakan dapat dicapai dengan sebaik-baiknya (Hasbullah, 2001 : 189).

“Tujuan” yang direncanakan mengharuskan adanya perincian yang jelas tentang sasaran dan hasil-hasil yang ingin dicapai, yang sedapat mungkin dapat diukur untuk mengetahui perbedaan antara keadaan sesudah dan sebelum inovasi dilancarkan. Dan tujuan inovasi ialah efisiensi, relevansi dan efektivitas mengenai sasaran jumlah anak didik Sebanyak-banyaknya, dengan hasil pendidikan yang sebesar-besarnya (menurut kriteria kebutuhan anak didik, masyarakat dan pembangunan) dengan menggunakan sumber tenaga, uang, alat dan waktu dalam jumlah sekecil-kecilnya (Suryosobroto, 1990 : 129)

Kalau dikaji, arah tujuan inovasi pendidikan Indonesia tahap demi tahap, yaitu :
1. Mengejar ketinggalan-ketinggalan yang dihasilkan oleh kemajuan-kemajuan ilmu dan teknologi sehingga makin lama pendidikan di Indonesia makin berjalan sejajar dengan kemajuan-kemajuan tersebut.
2. Mengusahakan terselenggaranya pendidikan sekolah maupun luas sekolah bagi setiap warga negara. Misalnya meningkatkan daya tampung usia sekolah SD, SLTP, dan Perguruan Tinggi.

Disamping itu akan diusahakan peningkatan mutu yang dirasakan makin menurun dewasa ini. Dengan sistem penyampaian yang baru diharapkan peserta didik menjadi manusia yang aktif, kreatif, dan terampil mmecahkan masalah sendiri (Idris, Jamal, 992 : 71).

Tujuan jangka panjang yang hendak dicapai ialah terwujudnya manusia Indonesia seutuhnya. Tujuan lain dilakukannya inovasi pendidikan adalah untuk memecahkan masalah pendidikan dan menyongsong arah perkembangan dunia kependidikan yang lebih memberikan harapan kemajuan lebih pesat.

Secara lebih rinci tentang maksud-maksud diadakannya inovasi pendidikan ini, ialah sebagai berikut : (Hasbullah, 2001 : 199, 200, 201)
1. Pembaharuan pendidikan sebagai tanggapan baru terhadap masalah-masalah pendidikan.

Dengan majunya bidang teknologi dan komunikasi sekarang ini, dapat memberikan pengaruh positif terhadap kemajuan di bidang lain, termasuk dalam dunia pendidikan.
Tugas pembaharuan pendidikan yang terutama adalah memecahkan masalah-masalah yang dijumpai dalam dunia pendidikan baik dengan cara inovatif. Inovasi atau pembaharuan pendidikan juga merupakan suatu tanggapan baru terhadap masalah kependidikan yang nyata-nyata dihadapi. Titik pangkal pembaharuan pendidikan adalah masalah pendidikan yang aktual, yang secara sistematis akan dipecahkan dengan cara inovatif.

Akhir-akhir ini, semua usaha pembaharuan pendidikan ditujukan untuk kepentingan siswa atau subyek belajar demi perkembangannya, yang sering disebut “student centered approach”. Pembaharuan pendidikan yang memusatkan pada masalah pendidikan umumnya dan perkembangan subyek pendidikan khususnya mengutamakan segi efektifitas dan segi ekonomis dalam proses belajar.

2. Sebagai upaya untuk memperkembangkan pendekatan yang lebih efektif dan ekonomis.

Dalam sejarahnya, kehidupan manusia dapat dibedakan menjadi tiga tahapan, yaitu :
a. Periode manusia-manusia masih menggantungkan diri kepada alam sekitarnya dengan usaha penyesuaian secara mencoba-coba.
b. Periode manusia telah mampu menemukan alat dan teknik baru yang menyebabkan keterikatan manusia terhadap alam berkurang, namun timbul ketergantungan baru terhadap birokrasi dan spesialisasi.
c. Periode manusia telah mampu mencapai kerjasama berdasar perencanaan menuju perubahan sosial yang didambakan.

Kemampuan manusia tidak saja untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya dengan mengubah dirinya (autoplastic), namun juga mampu mengubah lingkungannya demi kepentingan dirinya (alloplastic). Manusia mampu menciptakan sesuatu yang baru yang sebelumnya tidak dikenal, manusia juga selalu berusaha dan mampu melakukan sesuatu dengan cara yang baru, yang sebelumnya tidak dikenal dan bahkan lebih sempurna. Dengan kreativitas dan usaha yang tak henti-hentinya, manusia menemukan sesuatu dengan cara baru yang mengantarkan kepada kehidupan yang lebih baik seperti sekarang ini. Pembaharuan pendidikan dilakukan adalah dalam upaya “problem solving” yang dihadapi dunia, pendidikan yang selalu dinamis dan berkembang.

Adapun sifat pendekatan yang dilakukan untuk pemecahan masalah pendidikan yang kompleks dan berkembang itu harus berorientasi kepada hal-hal yang efektif dan murah, serta peka terhadap timbulnya masalah-masalah yang baru di dalam pendidikan.



Dipublikasikan Oleh:
M. Asrori Ardiansyah, M.Pd
Pendidik di Malang

Sumber: www.kabar-pendidikan.blogspot.com, www.kmp-malang.com www.arminaperdana.blogspot.com
16.42 | 0 komentar | Read More

Masalah-masalah yang menuntut Inovasi Pendidikan

Inovasi dalam pendidikan merupakan reaksi para ahli pendidikan dan perencanaan pembangunan terhadap tekanan masalah-masalah sosial, ekonomi, dan pendidikan sendiri yang dari tahun-ketahun makin dirasakan berat dan mendesak (Suryobroto, 1990 : 129).

Secara nasional maupun global masalah-masalah ini berkisar pada pokok-pokok sebagai berikut (Hasbullah, 2001 : 189, 190, 191).
1. Perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Adanya perkembangan ilmu pengetahuan tidak bisa dipungkiri, mengakibatkan kemajuan teknologi yang mempengaruhi kehidupan sosial, ekonomi, politik, pendidikan dan kebudayaan Bangsa Indonesia.

Diakui bahwa sistem pendidikan yang kita miliki dan dilaksanakan selama ini masih belum mampu mengikuti dan mengendalikan kemajuan-kemajuan tersebut, sehingga dunia pendidikan belum dapat menghasilkan tenaga-tenaga pembangunan yang terampil, kreatif dan aktif, yang sesuai dengan tuntutan dan keinginan masyarakat luas. Bagaimanapun berkembangnya ilmu pengetahuan modern menghendaki dasar-dasar pendidikan yang kokoh dan penguasaan kemampuan yang terus-menerus.

2. Pertambahan penduduk
Laju eksplosi penduduk yang cukup pesat tentunya menuntut adanya perubahan-perubahan, sekaligus bertambahnya keinginan masyarakat untuk mendapatkan pendidikan yang secara komulatif menuntut tersedianya sarana pendidikan yang memadai.

Kenyataan tersebut menyebabkan daya tampung, ruang dan fasilitas pendidikan sangat tidak seimbang. Hal inilah juga yang menyebabkan sulitnya menentukan bagaimana relevansi pendidikan dengan dunia kerja sebagai akibat tidak seimbangnya antara out put lembaga pendidikan dengan kesempatan yang tersedia.

3. Meningkatnya animo masyarakat untuk memperoleh pendidikan yang lebih baik. Munculnya gerakan inovasi pendidikan berkaitan erat dengan adanya berbagai tantangan dan persoalan yang dihadapai oleh dunia pendidikan dewasa ini, yang salah satu penyebabnya adalah kemajuan IPTEK.

Kemajuan IPTEK yang terjadi senantiasa mempengaruhi aspirasi masyarakat, dimana pada umumnya mereka mendambakan pendidikan yang lebih baik, padahal disatu sisi kesempatan untuk itu sangat terbatas, sehingga terjadilah kompetisi atau persaingan yang sangat ketat. Berkenaan dengan ini pula sekarang bermunculan sekolah-sekolah favorit, plus, bahkan unggulan.

4. Menurunnya Kualitas Pendidikan
Kualitas pendidikan yang dirasakan semakin menurun, yang belum mampu mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi menuntut adanya sejumlah perubahan, sebab bila tidak demikian, jelas akan berakibat fatal dan akan terus ketinggalan.

5. Kurang adanya relevansi antara pendidikan dan kebutuhan masyarakat yang membangun.
Bagaimanapun dalam era modern sekarang, masyarakat menuntut adanya lembaga pendidikan yang benar-benar mampu diharapkan, terutama yang siap pakai dengan dibekali skill yang diperlukan dalam pembangunan.

Umumnya kurang sesuainya materi pendidikan dengan kebutuhan masyarakat telah diatasi dengan menyusun kurikulum baru. Oleh karena itu dari perkembangan yang ada di Indonesia kita ketahui telah mengalami beberapa kali perubahan kurikulum. Hal ini dilakukan adalah dalam upaya mengatasi masalah relevansi.

Dengan kurikulum baru inilah anak-anak dibina kepribadiannya melalui pengetahuan, keterampilan dan sikap yang sesuai dengan tuntutan masa kini dan masa yang akan datang. Aspek keterampilan merupakan unsur kurikulum baru yang selalu mendapatkan perhatian khusus dan prioritas utama.

6. Belum mekarnya alat organisasi yang efektif, serta belum tumbuhnya suasana yang subur dalam masyarakat untuk mengadakan perubahan-perubahan yang di tuntut oleh keadaan sekarang dan yang akan datang. Kenyataan seperti ini disebabkan masih minimnya pengetahuan dan wawasan masyarakat untuk membangun dirinya kepada kemajuan-kemajuan.

Secara lebih terperinci dengan contoh-contoh dan angka-angka, masalah pokok tersebut telah sering diterangkan dalam berbagai pernyataan dan laporan resmi pimpinan Departemen pendidikan.

Masalah-masalah itu semua menuntut kita untuk meninggalkan konsepsi-konsepsi dan cara-cara kerja tradisional dan linier, dan harus berani mengembangkan pendekatan-pendekatan alternatif yang inovatif, dengan jalan menjelajahi, mencobakan dan menetapkan orientasi dan struktur baru dalam pendidikan.

Karena pandangan tradisional itu maka banyak tumbuh daerah-daerah “angker” atau mitos-mitos, dan kalau ada orang yang mau merobahnya, maka ramailah orang yang mempergunjingkan tanpa mempertimbangkan informasi dan pengalaman riil yang mendesak kini dan masa datang, dan yang perlu diubah sesungguhnya tidak akan dapat menyelesaikan masalah-masalah yang mendesak kini dan masa yang akan datang, dan yang perlu diubah segera dengan cara-cara yang mantap.

Mitos-mitos ini misalnya ialah, bahwa keadaan pendidikan sekarang biarpun belum baik belum tentu bertambah baik kalau diadakan pembaharuan, bahwa umur permulaan belajar ialah umur 7 tahun bahwa pendidikan dasar harus berlangsung 6 tahun bahwa bakal pelajaran yang baik harus diberikan selama 5 sampai 6 jam sehari, bahwa dengan mendirikan sekolah-sekolah kejuruan sebanyak-banyaknya, tanpa memperhatikan faktor-faktor lain, akan membantu pembangunan negara, “alat” (learning) paling baik terjadi di sekolah, dan karenanya sekolah disamakan dengan pendidikan, dan masih banyak lagi, termasuk mitos yang menyatakan bahwa prestasi murid perempuan akan terganggu kalau jambul rambutnya menutupi sebagian dahi dan matanya (Suryosubroto, 1990 : 130, 131).



Dipublikasikan Oleh:
M. Asrori Ardiansyah, M.Pd
Pendidik di Malang

Sumber: www.kabar-pendidikan.blogspot.com, www.kmp-malang.com www.arminaperdana.blogspot.com
16.41 | 0 komentar | Read More

Faktor-faktor yang mempengaruhi inovasi pendidikan

Inovasi pendidikan adalah perubahan pendidikan yang didasarkan atas usaha-usaha sadar, terencana, berpola dalam pendidikan yang bertujuan untuk mengarahkan, sesuai dengan kebutuhan yang dihadapi dan tuntutan zamannya. Dalam inovasi pendidikan gagasan baru sebagai hasil pemikiran kembali haruslah mampu untuk memecahkan persoalan yang tidak terpecahkan oleh cara-cara tradisional yang bersifat komersial.

Inovasi pendidikan dilakukan disamping sebagai tanggapan terhadap masalah pendidikan dan tuntutan zaman, juga merupakan usaha aktif untuk mempersiapkan diri menghadapi masa datang yang akan memberikan harapan sesuai dengan cita-cita yang diinginkan.

Kalau pada bagian sebelumnya telah dikemukakan tentang hal-hal yang menuntut inovasi pendidikan, berikut ini akan dikemukakan lebih jauh tentang beberapa faktor yang cukup berperan mempengaruhi inovasi pendidikan (Hasbullah; 2001, 1-4) yaitu :
1. Visi Terhadap Pendidikan
Pendidikan merupakan persoalan asasi bagi manusia-manusia sebagai makhluk yang dapat dididik dan harus dididik akan tumbuh menjadi manusia dewasa dengan proses pendidikan yang dialaminya. Sejak kelahirannya, manusia telah memiliki potensi dasar yang universal, berupa :
a. Kemampuan untuk membedakan antara yang baik dan yang buruk (moral identity).
b. Kemampuan dan kebebasan untuk memperkembangkan diri sendiri sesuai dengan pembawaan dan cita-citanya (individual identity).
c. Kemampuan untuk berhubungan dan kerja sama dengan orang lain (sosial identity).
d. Adanya ciri-ciri khas yang mampu membedakan dirinya dengan orang lain (individual differences).

Setiap anak akan mengalami proses pendidikan secara alamiah, yaitu yang ia dapatkan dalam situasi pergaulan dengan kedua orang tuanya pada khususnya dalam lingkungan budaya yang mengelilinginya. Pendidikan seperti inilah yang akan menjadikan anak sebagai manusia dalam arti yang sesungguhnya. Cinta kasih orang tua dan ketergantungan serta kepercayaan anak kepada mereka pada usia-usia muda merupakan dasar kokoh yang memungkinkan timbulnya pergaulan mendidik. Dengan upaya pendidikan, potensi dasar universal anak akan tumbuh dan membentuk diri anak yang unik, sesuai dengan pembawaan, lingkungan budaya dan zamannya.

Usaha dan tujuan pendidikan dilandasi oleh pandangan hidup orang tua, lembaga-lembaga penyelenggara pendidikan, masyarakat dan bangsanya. Manusia Indonesia, warga masyarakat dan warga negara yang lengkap dan utuh harus dipersiapkan sejak anak masih kecil dengan upaya pendidikan. Tujuan pendidikan diabadikan untuk kebahagiaan individu, keselamatan masyarakat dan kepentingan negara.

Pandangan hidup bangsa menjadi norma pendidikan nasional keseluruhan. Seperti diketahui, bahwa kehidupan ini selalu mengalami perubahan, tujuan pembangunan, bangsa mengalami pergeseran dan peningkatan serta perubahan sesuai dengan waktu, keadaan dan kondisinya.

Dengan demikian pandangan dan harapan orang tua terhadap pendidikan sekarang dapat berbeda dengan pandangan orang terhadap pendidikan masa lampau atau waktu yang akan datang. Perbedaan pandangannya ini erat hubungannya, kalau tidak justru harus disebut berdasarkan atas falsafah mengenai manusia dan kemanusiaan pada zamannya masing-masing.

2. Faktor Pertambahan Penduduk
Adanya pertambahan penduduk yang cepat menimbulkan akibat yang luas terhadap berbagai segi kehidupan, utamanya pendidikan. Banyak masalah-masalah pendidikan yang berkaitan erat dengan meledaknya jumlah anak usia sekolah. Adapun masalah-masalah yang berkaitan langsung dengan pendidikan tersebut adalah :
a. Kekurangan kesempatan belajar
Masalah ini merupakan masalah yang mendapat prioritas pertama dan utama yang perlu segera digarap.
b. Masalah kualitas pendidikan
Dikarenakan kurangnya dana, kurangnya jumlah guru, kurangnya fasilitas pendidikan, sudah barang tentu hal ini akan mempengaruhi merosotnya mutu pendidikan.
c. Masalah relevansi
Masalah relevansi ini pada prinsipnya cukup mendasar, sebab dalam kondisi seperti sekarang ini sangat dibutuhkan out put pendidikan yang sesuai dengan tuntutan masyarakat terutama dalam hubungannya dengan kesiapan kerja.

Hal tersebut lebih-lebih dengan digulirkannya konsep “link and match”, yang bertujuan salah satunya adalah mengatasi persoalan relevansi tersebut.
d. Masalah Efisiensi Efektifitas
Pendidikan diusahakan agar memperoleh hasil yang baik dengan biaya dan waktu yang sedikit. Ini berarti harus dicari sistem mendidik dan mengajar yang efisien dan efektif, sesuai dengan prinsip-prinsip dasar pendidikan.

3. Faktor Perkembangan Ilmu Pengetahuan
Seiring dengan kemajuan zaman seperti sekarang ini, justru ditandai dengan majunya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Perkembangan ilmu pengetahuan secara akumulatif dan makin cepat jalannya. Tanggapan yang biasa dilakukan dalam kependidikan terhadap perkembangan ilmu pengetahuan ialah dengan memasukkan penemuan dan teori ke dalam kurikulum sekolah. Meskipun hal ini menyebabkan adanya kurikulum yang sangat sarat dengan masalah-masalah yang baru.

4. Tuntutan adanya proses pendidikan yang Relevan
Sebagaimana telah dikemukakan, bahwa salah satu tuntutan diadakannya inovasi di dalam pendidikan adalah adanya relevansi antara dunia pendidikan dengan kebutuhan masyarakat atau dunia kerja.

Berkenaan dengan hal tersebut, maka pendidikan dapat diperoleh baik di sekolah maupun di luar sekolah. Cukup banyak pendidikan yang sangat berarti justru tidak dapat diperoleh di sekolah, terutama yang bersifat pengembangan profesi dan keterampilan, seperti pengembangan karier, profesi tertentu dan sebagainya.

Permasalahan pendidikan yang kini dihadapi adalah sangat kompleks. Adanya proses pendidikan yang relevan dengan kebutuhan dan masalah yang dihadapi sangat diperlukan mengingat akan keterbatasan dana pendidikan.



Dipublikasikan Oleh:
M. Asrori Ardiansyah, M.Pd
Pendidik di Malang

Sumber: www.kabar-pendidikan.blogspot.com, www.kmp-malang.com www.arminaperdana.blogspot.com
16.41 | 0 komentar | Read More

Inovasi Pendidikan Akhlak Berbasis Manajemen Qalbu

Di dalam Qolbu terhimpun perasaan moral, mengalami dan menghayati tentang salah-benar, baik buruk serta berbagai keputusan yang harus dipertanggung jawabkannya secara sadar, sehingga kualitas Qalbu akan menentukan apakah dirinya bisa tampil sebagai subjek, bahkan sebagai wakil Tuhan di muka bumi, ataukah terpuruk dalam kebinatangan yang hina. Untuk itu perlu upaya untuk membersihkan dan memberikan pencerahan Qolbu, yaitu dengan cara penyucian jiwa (Tazkiyah An Nafs) yang berarti menghiasi diri dengan sifat-sifat terpuji, sesudah membersihkannya dari sifat-sifat tercela.

Dengan kata lain diri dibersihkan dari kotoran dan kerusakannya diubah menjadi An Nafs Al Lawwamah (jiwa yang mencela) dan akhirnya menjadi An Nafs Al Muthma’innah. Selanjutnya adalah dengan cara menghapus kecintaan terhadap dunia serta menghilangkan segenap kesedihan, kedukaan dan kekhawatiran atas segala sesuatu yang tidak berguna yaitu dengan cara senantiasa dan terus menerus mengingat Allah (Dzikrullah).

Adapun upaya lain yang dapat dilakukan untuk pencerahan Qolbu adalah, antara lain :
1. Biasakan sekuat daya untuk melakukan pembersihan atau pelurusan Qalbu.
2. Senantiasa berkemauan kuat untuk meningkatkan kemampuan (keprofesionalan) diri dalam bidang apapun. (Valiuddin, 2000 : 225)

Realisasi kunci pertama dilakukan dengan berusaha untuk introspeksi (penilaian) diri dengan tekad untuk memperbaiki diri. Penilaian diri dimulai dari lingkungan yang terkecil seperti keluarga. Setelah lingkungan keluarga, penilaian diri diperluas ke saudara-saudara terdekat dan kemudian orang-orang di sekitar kita. Yakinlah bahwa semakin diri dapat dibuat terbuka, dapat menerima kritikan dengan keikhlasan, Insya Allah perkembangan kemampuan diri akan semakin baik. Untuk pembersihan hati ada lima tahap yang perlu ditempuh, antara lain :
1. Adanya tekad kuat untuk memahami dan memperbaiki diri serta membersihkan hati.
2. Memiliki “ilmu” mengenai pemahaman atau pengenalan diri. Sebab seseorang dapat membersihkan hati melalui perbaikan diri secara kontinu jika telah menyadari keadaan dirinya.
3. Menafakuri diri sendiri melalui evaluasi diri dengan bekal ilmu (tentang pengendalian diri) yang dimilikinya.
4. Proses mengevaluasi diri perlu untuk diperluas. Dengan kata lain, evaluasi diri dibicarakan secara terbuka dan bersama-sama sehingga proses pembersihan Qalbu semakin efektif.
5. Berkaitan dengan proses pembelajaran yaitu bagaimana diri mau belajar dari diri orang lain. (Gymnastiar, 2002 : 235 – 239)

Sedangkan untuk kunci yang kedua diperlukan adanya kejujuran sebagai modal dasar untuk membentuk jiwa yang tangguh, penuh dedikasi dan disiplin dalam menjalankan kerja sehari-hari (Gymnastiar, 2002 : 2). Manajemen Qalbu tidak hanya membentuk manusia yang ahli dzikir dan ahli fikir tetapi juga manusia yang ahli ikhtiar. Hal ini akan berkaitan dengan amal nyata dan karya nyata melalui proses pelatihan bidang untuk peningkatan kualitas keprofesionalan (Gymnastiar, 2002 : 106 – 108)

Adapun bentuk pelaksanaan Manajemen Qolbu yang bersifat kelompok, dilaksanakan dengan sistem ta’lim yang dibagi ke dalam beberapa kelompok lain. Materi yang diberikan bertendensi kepada pembentukan akhlak seperti ; kesabaran, kejujuran, keteladanan. Ayat-ayat dan hadits-hadits pendukung juga disiapkan dalam materi tersebut. Ada tiga materi pokok yang terkait dengan Manajemen Qolbu yaitu keutamaan hati, mengenal potensi manusia dan potensi diri sendiri serta pengenalan diri (Gymnastiar, 2002 : 103 – 106).

Di dalam Qolbu terhimpun perasaan moral, mengalami dan menghayati tentang salah-benar, baik buruk serta berbagai keputusan yang harus dipertanggung jawabkannya secara sadar, sehingga kualitas Qalbu akan menentukan apakah dirinya bisa tampil sebagai subjek, bahkan sebagai wakil Tuhan di muka bumi, ataukah terpuruk dalam kebinatangan yang hina. Untuk itu perlu upaya untuk membersihkan dan memberikan pencerahan Qolbu, yaitu dengan cara penyucian jiwa (Tazkiyah An Nafs) yang berarti menghiasi diri dengan sifat-sifat terpuji, sesudah membersihkannya dari sifat-sifat tercela. Dengan kata lain diri dibersihkan dari kotoran dan kerusakannya diubah menjadi An Nafs Al Lawwamah (jiwa yang mencela) dan akhirnya menjadi An Nafs Al Muthma’innah. Selanjutnya adalah dengan cara menghapus kecintaan terhadap dunia serta menghilangkan segenap kesedihan, kedukaan dan kekhawatiran atas segala sesuatu yang tidak berguna yaitu dengan cara senantiasa dan terus menerus mengingat Allah (Dzikrullah).

Adapun upaya lain yang dapat dilakukan untuk pencerahan Qolbu adalah, antara lain :
1. Biasakan sekuat daya untuk melakukan pembersihan atau pelurusan Qalbu.
2. Senantiasa berkemauan kuat untuk meningkatkan kemampuan (keprofesionalan) diri dalam bidang apapun. (Valiuddin, 2000 : 225)

Realisasi kunci pertama dilakukan dengan berusaha untuk introspeksi (penilaian) diri dengan tekad untuk memperbaiki diri. Penilaian diri dimulai dari lingkungan yang terkecil seperti keluarga. Setelah lingkungan keluarga, penilaian diri diperluas ke saudara-saudara terdekat dan kemudian orang-orang di sekitar kita. Yakinlah bahwa semakin diri dapat dibuat terbuka, dapat menerima kritikan dengan keikhlasan, Insya Allah perkembangan kemampuan diri akan semakin baik. Untuk pembersihan hati ada lima tahap yang perlu ditempuh, antara lain :
1. Adanya tekad kuat untuk memahami dan memperbaiki diri serta membersihkan hati.
2. Memiliki “ilmu” mengenai pemahaman atau pengenalan diri. Sebab seseorang dapat membersihkan hati melalui perbaikan diri secara kontinu jika telah menyadari keadaan dirinya.
3. Menafakuri diri sendiri melalui evaluasi diri dengan bekal ilmu (tentang pengendalian diri) yang dimilikinya.
4. Proses mengevaluasi diri perlu untuk diperluas. Dengan kata lain, evaluasi diri dibicarakan secara terbuka dan bersama-sama sehingga proses pembersihan Qalbu semakin efektif.
5. Berkaitan dengan proses pembelajaran yaitu bagaimana diri mau belajar dari diri orang lain. (Gymnastiar, 2002 : 235 – 239)

Sedangkan untuk kunci yang kedua diperlukan adanya kejujuran sebagai modal dasar untuk membentuk jiwa yang tangguh, penuh dedikasi dan disiplin dalam menjalankan kerja sehari-hari (Gymnastiar, 2002 : 2). Manajemen Qalbu tidak hanya membentuk manusia yang ahli dzikir dan ahli fikir tetapi juga manusia yang ahli ikhtiar. Hal ini akan berkaitan dengan amal nyata dan karya nyata melalui proses pelatihan bidang untuk peningkatan kualitas keprofesionalan (Gymnastiar, 2002 : 106 – 108)

Adapun bentuk pelaksanaan Manajemen Qolbu yang bersifat kelompok, dilaksanakan dengan sistem ta’lim yang dibagi ke dalam beberapa kelompok lain. Materi yang diberikan bertendensi kepada pembentukan akhlak seperti ; kesabaran, kejujuran, keteladanan. Ayat-ayat dan hadits-hadits pendukung juga disiapkan dalam materi tersebut. Ada tiga materi pokok yang terkait dengan Manajemen Qolbu yaitu keutamaan hati, mengenal potensi manusia dan potensi diri sendiri serta pengenalan diri (Gymnastiar, 2002 : 103 – 106).



Dipublikasikan Oleh:
M. Asrori Ardiansyah, M.Pd
Pendidik di Malang

Sumber: www.kabar-pendidikan.blogspot.com, www.kmp-malang.com www.arminaperdana.blogspot.com
16.40 | 0 komentar | Read More

Hakikat Sekolah Unggul

Sekolah unggul merupakan lembaga pendidikan yang lahir dari sebuah keinginan untuk memiliki sekolah yang mampu berprestasi di tingkat nasional dan dunia dalam penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi oleh ditunjang oleh akhlakul karimah.

Sekolah unggul dikembangkan untuk mencapai keistimewaan dalam keluaran pendidikannya. Untuk mencapai keistimewaan tersebut, maka masukan, proses pendidikan, guru dan tenaga kependidikan, manajemen, layanan pendidikan, serta sarana penunjangnya harus diarahkan untuk menunjang tercapainya tujuan tersebut.
Gambar 1. Sekolah Unggul











Dari gambar di atas, dapat penulis jelaskan bahwa adanya sekolah unggul perlu ditunjang dengan berbagai aspek, di antaranya adanya input yang unggul, guru yang profesional, sarana yang memadai, kurikulum yang inovatif, ruang kelas atau pembelajaran yang representatif, sehingga dapat mendorong terciptanya pembelajaran yang efektif dan efisien akhirnya dapat menghasilkan out put yang unggul dan berkualitas.

Hal senada diungkapkan oleh Bafadal (2003) bahwa untuk mencapai kriteria sekolah unggul dituntut adanya tenaga, fasilitas, dan dana yang memadai, dan tidak semua sekolah dapat memenuhinya. Secara teknis, pengembangan sekolah unggul menuntut adanya tenaga yang profesional dan fasilitas yang memadai. Konsekuensinya dibutuhkan biaya yang tidak sedikit untuk pengembangannya, sehingga uang gedung, SPP juga menjadi mahal yang hanya mampu dipenuhi oleh orang-orang kaya, dan kecil sekali kemungkinan bagi orang yang tidak mampu untuk menyekolahkan anaknya ke sekolah unggul.

Masih menurut Bafadal, dalam mewujudkan sekolah unggul, dikembangkan pula kelas unggul, yaitu sejumlah siswa, yang karena prestasinya menonjol, dikelompokkan ke kelas tertentu. Pengelompokan ini dimaksudkan untuk membina siswa dalam mengembangkan kecerdasan, kemampuan, keterampilan, dan potensinya seoptimal mungkin, sehingga memiliki pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang terbaik.

Ciri-ciri sekolah unggul adalah sekolah yang memiliki indikator sebagai berikut: (1) prestasi akademik dan non-akademik di atas rata-rata sekolah yang ada di daerahnya; (2) sarana dan prasarana dan layanan yang lebih lengkap; (3) sistem pembelajaran lebih baik dan waktu belajar lebih panjang; (4) melakukan seleksi yang cukup ketat terhadap pendaftar; (5) mendapat animo yang besar dari masyarakat, yang dibuktikan banyaknya jumlah pendaftar dibanding dengan kepasitas kelas; (6) biaya sekolah lebih tinggi dari sekolah disekitarnya.

Departemen Agama sebagai salah satu pelaksana program pendidikan sekolah telah mengembangkan beberapa jenis madrasah unggulan, yaitu: Madrasah Aliyah Keagamaan, Madrasah Tsanawiyah Terbuka, Madrasah Model, Madrasah Aliyah Unggulan dan Madrasah Aliyah Ketrampilan. Pengembangan kelembagaan di lingkungan madrasah dan sekolah Islam tidak hanya berhenti pada beberapa jenis sekolah di atas, tetapi terus berkembang hingga saat ini. Wacana pengembangan sekolah terpadu dan bertaraf internasional yang saat ini banyak diminati merupkan bagian dari pengembangan lebih lanjut dari beberapa jenis lembaga pendidikan di atas.



Rujukan:
1. Departemen Agama RI, Desain Pengembangan Madrasah (Jakarta: Direktorat Jenderal Kelembagaan Agama Islam, 2004), 41.
2. Ibrahim Bafadal, Manajemen Peningkatan Mutu Sekolah Dasar: dari Sentralisai Menuju Desentralisasi (Jakarta: Bumi Aksara, 2003), 28.
3. Madyo Ekosusilo, Sekolah Unggul Berbasis Nilai: Studi Multikasus di SMA Negeri 1, SMA Regina Pacis, dan SMA Al Islam 1 Surakarta (Sukoharjo: Bantara Press, 2003), 41.
4. Direktorat Pendidikan Madrasah, Grand Design Pengembangan Madrasah, http://pendis. depag.go.id/madrasah/Insidex.php (diakses pada 3 Januari 2009), Bab 3.


Dipublikasikan Oleh:
M. Asrori Ardiansyah, M.Pd
Pendidik di Malang

Sumber: www.kabar-pendidikan.blogspot.com, www.kmp-malang.com www.arminaperdana.blogspot.com
16.39 | 0 komentar | Read More

Definisi dan Karakteristik Inovasi Pendidikan

Berkaitan dengan perubahan sosial, Zaltman dan Duncan (1973: 7) berpendapat bahwa semua inovasi adalah termasuk perubahan sosial, tetapi perubahan sosial belum tentu inovasi. Inovasi merupakan perubahan sosial yang digunakan untuk mencapai tujuan tertentu dan diamati sebagai sesuatu yang baru bagi seseorang atau sekelompok orang (masyarakat). Dengan demikian, inovasi adalah bagian dari perubahan sosial.

Beragam definisi inovasi dikemukakan oleh beberapa ahli dengan susunan kalimat dan penekanan maksud yang berbeda namun pada dasarnya mengandung pengertian yang sama. Di antaranya dikemukakan oleh Ibrahim (1988: 40) mendefinisikan inovasi sebagai:
Suatu ide, barang, kejadian, metode, yang dirasakan atau diamati sebagai sesuatu hal yang baru bagi seseorang atau sekelompok orang (masyarakat), baik berupa hasil invensi maupun diskoveri. Inovasi diadakan untuk mencapai tujuan tertentu.

Definisi tersebut menyatakan bahwa inovasi adalah suatu ide, hal-hal yang praktis, metode, cara, barang buatan manusia, yang diamati atau dirasakan sebagai sesuatu yang baru bagi seseorang atau sekelompok orang (masyarakat). Hal yang baru tersebut dapat berupa hasil invensi maupun diskoveri yang dipergunakan untuk mencapai tujuan tertentu atau memecahkan masalah.

Invensi (Invention) adalah suatu penemuan sesuatu yang benar-benar baru. Dalam arti, hasil kreasi manusia, benda atau hal lain yang ditemukan tersebut benar-benar belum ada sebelumnya, kemudian diadakan kreasi baru. Misalnya penemuan teori belajar, teknik pembuatan barang dari plastik, dll. Sedangkan diskoveri (discovery) adalah suatu penemuan sesuatu yang sebenarnya benda atau hal yang ditemukan itu sudah ada, tetapi belum diketahui orang. Misalnya penemuan hukum gravitasi oleh Newton, dll. (Ibrahim, 1988: 40).

Adapun inovasi pendidikan adalah inovasi dalam bidang pendidikan atau inovasi untuk memecahkan masalah pendidikan. Dengan kata lain, inovasi pendidikan adalah suatu ide, barang, metode, yang dirasakan atau diamati sebagai sesuatu hal yang baru bagi seseorang atau sekelompok orang (masyarakat), baik berupa hasil invensi maupun diskoveri untuk mencapai tujuan pendidikan atau memecahkan masalah pendidikan (Ibrahim, 1988: 51).

Inovasi pendidikan mencakup hal-hal yang berhubungan dengan komponen sistem pendidikan dalam arti sempit (suatu lembaga pendidikan) maupun dalam arti luas (sistem pendidikan). Miles (1964: 15) mengemukakan komponen pendidikan atau komponen sistem sosial yang memungkinkan untuk dilakukan suatu inovasi, yaitu:
1. Pembinaan personalia;
2. Banyaknya personalia dan wilayah kerja;
3. Fasilitas fisik;
4. Penggunaan waktu;
5. Perumusan tujuan;
6. Peran yang diperlukan;
7. Wawasan dan perasaan;
8. Bentuk hubungan antar bagian;
9. Hubungan dengan sistem yang lain;
10. Strategi.
Cepat lambatnya penerimaan inovasi, termasuk inovasi pendidikan oleh masyarakat luas dipengaruhi oleh karakteristik inovasi sendiri.

Menurut Rogers (1983: 14-15), karakteristik inovasi tersebut adalah:
1. Keunggulan relatif, yaitu sejauh mana inovasi dianggap menguntungkan bagi penerimanya. Tingkat keuntungan atau kemanfaatan suatu inovasi dapat diukur berdasarkan nilai ekonominya, atau mungkin dari faktor status sosial (gengsi), kesenangan, kepuasan, atau karena mempunyai komponen yang sangat penting;
2. Kompatibel (compatibility), yaitu tingkat kesesuaian dengan nilai (values), pengalaman lalu, dan kebutuhan dari penerima;
3. Kompleksitas (complexity), yaitu tingkat kesukaran untuk memahami dan manggunakan inovasi bagi penerima;
4. Trialabilitas (trialability), yaitu dapat dicoba atau tidaknya suatu inovasi oleh penerima;
5. Dapat diamati (obsevability), yaitu mudah diamati atau tidaknya suatu hasil inovasi oleh penerima.

Sedangkan Zaltman, Duncan, dan Holbek (1973: 32-50) berpendapat bahwa cepat lambatnya penerimaan inovasi dipengaruhi oleh atribut inovasi itu sendiri yang meliputi: pembiayaan, balik modal, efisiensi, resiko dan ketidakpastian, mudah dikomunikasikan, kompabilitas, kompleksitas, status ilmiah, kadar keaslian, dapat dilihat kemanfaatannya, dapat dilihat batas sebelumnya, keterlibatan, hubungan interpersonal, kepentingan umum dan penyuluh inovasi.

Dalam hal ini, penulis mengutip definisi inovasi yang dikatakan oleh White (1987: 211) yang berbunyi: "Inovation ......more than change, although all innovations involve change." (inovasi itu ... lebih dari sekedar perubahan, walaupun semua inovasi melibatkan perubahan). Untuk mengetahui dengan jelas perbedaan antara inovasi dengan perubahan, kita lihat definisi yang diungkapkan oleh Nichols (1983: 4). "Change refers to" continuous reapraisal and improvement of existing practice which can be regarded as part of the normal activity ..... while innovation refers to .... Idea, subject or practice as new by an individual or individuals, which is intended to bring about improvement in relation to desired objectives, which is fundamental in nature and which is planned and deliberate."

Nichols menekankan perbedaan antara perubahan (change) dan inovasi (innovation) sebagaimana dikatakannya di atas, bahwa perubahan mengacu kepada kelangsungan penilaian, penafsiran dan pengharapan kembali dalam perbaikan pelaksanaan pendidikan yang ada yang diangap sebagai bagian aktivitas yang biasa. Sedangkan inovasi menurutnya adalah mengacu kepada ide, obyek atau praktek sesuatu yang baru oleh seseorang atau sekelompok orang yang bermaksud untuk memperbaiki tujuan yang diharapkan.


Daftar Rujukan Untuk Semua Bab:
1. Ahmad Tafsir. 2001. Ilmu Pendidikan dan Prespektif Islam. Remaja Rosadakarya. Bandung.
2. Azra, Azyumardi. 2002. Paradigma Baru Pendidikan Nasional: Rekonstruksi dan Demokratisasi. Jakarta : Kompas
3. Badan Musyawarah Perguruan Tinggi Swasta Indonesia Wilayah Jawa Timur. 1998. Pelatihan Metode Kualitatif. Kumpulan Materi
4. Budi Wiyono, Bambang. 1999. Metodologi Penelitian Kualitatif. Malang : Universitas Negeri Malang
5. Bungin, Burhan (Ed). 2001. Metodologi Penelitian Kualitatif : Aktualisasi Metodologis ke arah Ragam Varia Kontemporer. Jakarta : Raja Gravindo Persada.
6. Choirullah, M. Noor. 1999. Faktor-faktor yang mempengaruhi Motivasi Kerja Karyawan pada Unit Usaha Pondok Pesantren (Studi Kasus Pondok Pesantren Hidayatullah Surabaya). Tesis. Program Pasca Sarjana Universitas Muhammadiyah Malang.
7. Dawam Raharjo. 1983. Dinamika Pesantren dalam Peta Pembaharuan. LP3ES : Jakarta.
8. Departemen Pendidikan Nasional RI. 2001. Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah. Jakarta.
9. Djalil, Abdul. 1999. Kepemimpinan dan Inovasi Pendidikan Islam: Studi kasus pada Madrasah Ibtidaiyah Negeri Malang I. Tesis Konsentrasi Magister Agama. Program Pasca Sarjana Universitas Muhammadiyah Malang.

10. Faisol, Sanapiah. 1990. Penelitian Kualitatip. Dasar-dasar dan aplikasi. Malang : Yayasan Asih Asah Asuh
11. -------, 2001. Format-format penelitian social. Jakarta : RajaGrafindo Persada.
12. Furchan, Arief. 1982. Pengantar Penelitian dalam Pendidikan. Surabaya: Usaha Nasional.
13. Ibrahim. 1988. Inovasi Pendidikan. Jakarta : Depdikbud
14. Jalaluddin, Dr. 2001. Dasar-dasar pemikiran Islam. Gaya Media Pratama : Jakarta
15. Hasan Langgulung. 1980. Beberapa Pemikiran tentang Pendidikan Islam. Al Ma’arif: Bandung.
16. M. Habib Chirzin. 1988. Pesantren dan Pembaharuan. LP3ES : Jakarta.
17. Manfred. 2001. Historitas dan Eksistensi Pesantren, Sekolah dan Madrasah. Tiara Wacana : Yogyakarta.
18. Miles, Matthew B dan A. Michael Huberman. Analisis Data Kualitatif : Buku Sumber tentang Metode-metode Baru. Edisi Indonesia. Jakarta : Penerbit Universitas Indonesia.
19. Moloeng. Lexy J. 2000. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung : Remaja Rosdakarya.
20. Muhaimin. 2001. Paradigma Pendidikan Islam. Remaja Rosdakarya : Bandung
21. Munir Mulhan Abdul. 2002. Dilema Madrasah diantara Dua Dunia. : Jurnal Pendidikan.
22. Naquib, An. 1994. Konsep Pendidikan dalam Islam. Mizan : Bandung.
23. Nasution. 1988. Metode Penelitian Naturalistik Kualitatif. Bandung. Tasrito
24. Rogers, Everett M. 1983. Diffusion of Innovation. New York : The Free Press A Divission of Macmillan Publishing Co, Inc.
25. Rose, Colin. 1999. Accelereted learning. Mizan : Bandung.
26. Sanaky. 2003. Paradigma Pendidikan Islam. Safiria Press : Yogyakarta.
27. Shorde A William, Dan Voich, Organisation of Management : Baisc Sistem Concepts. Remaja Rosdakarya : Bandung.
28. Siagian, Sondang P. 2002. Manajemen Sumber Daya Manusia. Jakarta : Bumi Aksara.
29. Subandijah. 1993. Pengembangan dan Inovasi Kurikulum. Jakarta : Raja Grafindo Persada.
30. Syaibany, Al. 2001. Dasar-dasar Pemikiran Pendidikan Islam. Gaya Media Pratama : Jakarta.
31. Tilaar.1999. Pendidikan, Kebudayaan dan Masyarakat Madani Indonesia. Remaja Rosdakarya : Bandung.
32. Zaltman, Gerald, dan Robert Duncan. 1977. Strategy of Planned Change. New York : A. Willey-Interscience Publication John Wiley & Sons.
33. Cece Wijaya, Djaja Jajuri, A. Tabrani Rusyam. 1997. Upaya pembaharuan dalam Bidang Pendidikan dan Pengajaran. PT. Remaja Rosdakarya: Bandung
34. Day, C.P. Whitaker, and D. Whren. 1987. Appraisal and Professional Development in the Primary Schools, Philadelphia. Open University Press
35. Kennedy, C. 1987. Innovation for Change. Teacher development and innovation. ELT Journal 41/3.
36. Kouraogo, P. 1987. Curriculum Renewal and inset in difficult circumstance. ELT Journal 41/3
37. Munro, R.G. 1977. Innovation Succes or Failure?. Bristol : J.W. arrows Smith Cambride English Dictionary



Dipublikasikan Oleh:
M. Asrori Ardiansyah, M.Pd
Pendidik di Malang

Sumber: www.kabar-pendidikan.blogspot.com, www.kmp-malang.com www.arminaperdana.blogspot.com
16.38 | 0 komentar | Read More