Hargailah Masa

myFriends

M-edukasi

www.m-edukasi.web.id blog guru
Sahabat Edukasi CMS Formulasi Flag Counter

advertisement

Bantu Kami Mengembangkan Website Ini Dengan Satu Kali Klik Iklan DiBawah Ini. Terimakasih

.
.
۞Aksara Senja۞. Diberdayakan oleh Blogger.
Tampilkan postingan dengan label Pengetahuan Umum. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pengetahuan Umum. Tampilkan semua postingan

EFEKTIVITAS METODE IQRO DALAM PEMBELAJARAN MEMBACA AL-QUR’AN

Written By Unknown on Sabtu, 23 November 2013 | 19.41

Oleh: Drs. H. Mangun Budiyanto


  1. I. Pendahuluan
Sebagaimana dikatakan oleh Mahmud Yunus (1979: 34) dan Kafrawi (1978: 17) secara historis pembelajaran Al-Qur’an di Indonesia tumbuh dan tersebar beriringan dengan tersebarnya agama Islam. Sebab di mana ada umat Islam, sudah dipastikan segera diikuti oleh berdirinya masjid atau mushalla, yang disamping sebagai tempat ibadah, juga sekaligus sebagai sentral pengajian, baik pengajian anak-anak, remaja, dewasa, orangtua, maupun pengajian umum.
Khusus untuk pengajian anak-anak, umumnya diselenggarakan tiap malam hari sesudah shalat berjama’ah maghrib, dengan materi membaca              Al-Qur’an, ibadah praktis, keimanan dan akhlak. Untuk pembelajaran membaca Al-Qur’an, umumnya dipergunakan kitab “Juz ‘Amma” yang di Jawa dikenal dengan istilah “turutan” atau kaidah Baghdadiyah. Cara mengajarkannya dimulai dengan mengenalkan huruf-huruf hijaiyah, kemudian tanda-tanda bacanya dengan dieja/diurai secara pelan. Setelah menguasai barulah diajarkan membaca QS. Al-Fatehah, An-Nas, Al-Falaq, Al-Ikhlas, dan seterusnya. Setelah selesai Juz ‘Amma, maka dimulai membaca Al-Qur’an pada mushaf, dimulai juz pertama sampai tamat.
Dari waktu ke waktu, dari generasi ke generasi, pengajian anak-anak terus menyebar dalam jumlah besar merata di seluruh pelosok tanah air. Berkat pengajian anak-anaklah maka kemudian umat Islam, dari generasi ke generasi berikutnya, mampu membaca Al-Qur’an dan mengetahui dasar-dasar keislaman.
Namun seiring dengan perkembangan zaman dan kemajuan iptek, sistem pengajian “tradisional” dan metode pembelajaran dengan kaidah Baghdadiyah yang demikian jadi kurang menarik. Anak-anak lebih tahan duduk berjam-jam di depan TV daripada duduk setengah jam di depan guru ngaji. Akibatnya, harus dibutuhkan waktu 2 – 5 tahun untuk bisa memiliki kemampuan membaca Al-Qur’an (Mahmud Yunus, 1979: 35). Akibat lebih lanjut adalah semakin banyak terlihat anak-anak muda Islam yang tidak memiliki kemampuan membaca Al-Qur’an. Hal yang demikian sungguh memprihatinkan!
Di tengah keprihatinan ini ternyata mendorong banyak ahli untuk mencari berbagai solusi pemecahannya. Maka sejak tahun 1980-an di Indonesia bermunculan ide-ide dan usaha untuk melakukan pembaruan sistem dan metode pembelajaran membaca Al-Qur’an ini. Diantara tokoh pembaru yang cukup menonjol adalah KH. As’ad Humam dari Kotagede Yogyakarta.
KH. As’ad Humum bersama kawan-kawannya yang dihimpun dalam wadah Team Tadarus Angkatan Muda Masjid dan Mushalla (Team Tadarus “AMM”) Yogyakarta, telah mencari bentuk baru bagi sistem pengelolaan pengajian anak-anak dan metode pembelajaran membaca Al-Qur’an. Setelah melalui studi banding dan ujicoba, maka pada tanggal 21 Rajab 1408 H, bertepatan dengan tanggal 16 Maret 1988, didirikanlah Taman Kanak-Kanak Al-Qur’an (TKA) “AMM” Yogyakarta. Setahun kemudian, tepatnya tanggal 16 Ramadlan 1409 H (23 April 1989) didirikan pula Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA) “AMM” Yogyakarta. Antara TKA dan TPA tidaklah memiliki perbedaan dalam sistem, keduanya hanya berbeda dalam hal usia anak didiknya. TKA untuk anak usia TKA (4,0 – 6,0 tahun) sedangkan TPA, untuk anak usia SD (7,0 – 12,0 tahun). (As’ad Humam, dkk, 1995: 3-4).
Bersamaan dengan didirikannya TKA-TPA, KH. As’ad Humam tekun menulis dan menyusun buku Iqro’, Cara Cepat Belajar Membaca Al-Qur’an, yang kemudian lebih dikenal  sebagai “Metode Iqro’”. Metode ini ternyata, menurut informasi berbagai pihak, telah sanggup membawa anak-anak lebih  mudah dan lebih cepat dalam belajar membaca Al-Qur’an. Namun benarkah demikian?
Tulisan dalam makalah ini akan mencoba menjawab pertanyaan di atas. Sejauhmana efektivitas metode Iqro’ melalui sistem TKA-TPA ini dalam mengantarkan para anak didiknya memiliki kemampuan dalam membaca               Al-Qur’an? Jawabannya tentu diperlukan melihat dari dekat TKA-TPA “AMM” Kotagede Yogyakarta, yang merupakan sumber awal dari sistem dan metode baru ini.
  1. II. Gambaran Umum TKA-TPA “AMM”
TKA-TPA “AMM” ini terletak di Kampung Selokraman, suatu kampung di pinggiran kota Yogyakarta yang berbatasan langsung dengan wilayah Kabupaten Bantul. Selokraman ini masuk wilayah Kalurahan Purbayan, Kecamatan Kotagede Yogyakarta. Di Kotagede inilah dulunya Kerajaan Islam Mataram berpusat sebelum kemudian berpindah ke tengah-tengah kota Yogyakarta yang sekarang ini.
Pada awal berdirinya (1988), TKA-TPA “AMM” ini belum memiliki gedung sendiri. Mula-mula hanya menempati beberapa ruang (salah satunya adalah ruang garasi) dari rumah milik pribadi KH. As’ad Humam. Baru kemudian pada tahun 1991 bisa membangun sebuah gedung yang memiliki 15 ruang, 4 ruang diantaranya berada di lantai 2. 11 ruang untuk kegiatan belajar (ruang kelas), 2 ruang untuk kantor, 1 ruang untuk sekretariat Team Tadarus “AMM” dan 1 ruang untuk sekretariat Team Tadarus “AMM” dan 1 ruang untuk ruang tamu. Di sebelah kiri ruang-ruang kelas terdapat kamar kecil dan halaman samping, sedang di depan gedung terdapat halaman yang cukup luas untuk bermain dan upacara.
Di samping memiliki gedung dengan 15 ruang di atas, TKA-TPA “AMM” juga didukung oleh fasilitas gedung lain yang juga dimanfaatkan untuk kegiatan, yaitu (1) gedung pertemuan berlantai 2 yang bisa menampung 500 orang, (2) Wisma “AMM” yang bisa menampung 100 orang tamu, (3) halaman Wisma “AMM” yang bisa digunakan parkir 300 kendaraan roda 2, (4) masjid yang bisa menampung 750 orang, dan (5) halaman masjid yang bisa dimanfaatkan untuk parkir 75 kendaraan roda 2.
Sebagai suatu sistem pendidikan, TKA-TPA “AMM” telah merumuskan tujuan pendidikan yang ingin dicapainya. Dalam buku kecil terbarunya (H.M. Budiyanto, dkk, 2007: 4), disebutkan bahwa tujuan pendidikannya adalah menyiapkan terbentuknya generasi qur’ani, yaitu generasi yang memiliki komitmen terhadap Al-Qur’an sebagai sumber perilaku, pijakan hidup dan rujukan segala urusannya. Hal ini ditandai dengan kecintaan yang mendalam terhadap Al-Qur’an, mampu dan rajin membacanya, terus menerus mempelajari isi kandungannya, dan memiliki kemauan yang kuat untuk mengamalkannya secara kaffah dalam kehidupan sehari-hari.
Demi tercapainya tujuan pendidikan yang cukup ideal ini, Team Tadarus “AMM” saat ini telah menyusun 5 jenjang pendidikan, yang masing-masing jenjang telah merumuskan target-target yang harus dicapai. Kelima jenjang itu adalah:
Masing-masing jenjang diprogramkan untuk masa 1 (satu) tahun dengan target masing-masing yang telah dirumuskan secara sistematis. Untuk TKA-TPA sebagai jenjang pertama, ada 3 target pokok yang ingin dicapai, yaitu santri mampu: (1) membaca Al-Qur’an sesuai kaidah ilmu tajwid dengan baik dan benar, (2) melakukan praktek wudlu dan shalat, (3) hafal bacaan shalat. Di samping target pokok dirumuskan pula adanya target penunjang, yaitu: (1) hafal 15 do’a sehari-hari, (2) hafal 13 surat pendek, (3) hafal 2 kelompok ayat pilihan, (4) bisa menulis ayat Al-Qur’an, (5) memiliki dasar-dasar akidah yang benar dan akhlak mulia, dan (6) membiasakan berinfak.
Untuk tahun ajaran 2008/2009 saat ini, Team Tadarus “AMM” memiliki 407 santri, dengan perincian sebagai berikut:
No Unit Putra Putri Jumlah
1. 2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
TKA TPA
TKA Lanjutan
TPA Lanjutan
Pra TQA (Tahfidz Juz ‘Amma)
TQA (Tafhim Juz ‘Amma)
TQA (Maudlu’iyah)
TQA (Tartibiyah)
80 34
35
32
14
15
4
-
60 41
31
19
23
14
5
-
140 75
66
51
37
29
9
0

Jumlah 214 193 407
Dari jumlah 407 anak tersebut, saat ini diasuh oleh 34 orang guru, yang terdiri dari 8 orang guru laki-laki (ustadz) dan 26 orang guru perempuan (ustadzah). 25 orang guru (73,50%) berusia antara 21-30 tahun, sedang pendidikan mereka mayoritas (21 orang = 63%) berpendidikan Sarjana (S1).
Khusus untuk santri TKA-TPA, sebagaimana terlihat pada tabel di atas, saat ini berjumlah 215 anak, yang terdiri dari 140 anak santri TKA, sedang santri TPA-nya sebanyak 75 anak. Mereka masuk tiap hari (selain Jum’at) yang terbagi dalam 2 shif. Shif pertama masuk jam 14.30-15.30 dan dilanjutkan shalat ashar berjama’ah, sedang shif kedua masuk jam 16.00-17.00 dan sebelumnya diawali dengan shalat berjama’ah ashar. Pembagian shif ini dilakukan atas pertimbangan keterbatasan ruang dan ustadz.
Sedang waktu yang 60 menit tiap hari masuk itu digunakan:
Durasi (menit) Keterangan
a. 05 : Pembukaan (persiapan, salam, do’a dan presensi)
b. 15 : Klassikal I (bacaan sholat, etika dan do’a sehari-hari, surat-surat pendek dan ayat pilihan)
c. 25 : Privat (proses pembelajaran baca Al-Qur’an dengan buku Iqro’ dan menulis)
d. 10 : Klassikal II (hadits/mahfudzot tentang akidah akhlak yang disampaikan dengan BCM)
e. 05 : Penutup (do’a, baca ikrar, pesan-pesan dan berinfak)
Catatan: Untuk praktek wudlu dan sholat berjamaah dilaksanakan
di luar jam pelajaran
Dan bila dibuat struktur kurikulum TKA-TPA tiap minggunya, maka akan terlihat sebagai berikut:
No Mata Pelajaran Smt I Smt II Jml
1. Pembelajaran Iqro’/tadarus Al-Qur’an secara privat dan menulis 6 6 12
2. Bacaan sholat dan surat-surat pendek 4 4 8
3. Etika dan do’a sehari-hari 3 3 6
4. Ayat-ayat pilihan 2 2 4
5. Hadits/mahfudzot tentang akidah akhlak (BCM) 3 3 6
6. Praktek wudlu, sholat (berjamaah) dan berinfak 5 5 10

Jumlah 23 23 46


  1. III. Metode Pembelajaran Membaca Al-Qur’an
Dari uraian di atas sudah terlihat bahwa pembelajaran membaca               Al-Qur’an diberikan di jenjang TKA-TPA dengan sistem privat. Baik TKA maupun TPA, santri dikelompokkan dalam kelas-kelas, setiap kelas antara 15-25 anak, ada seorang wali kelas dan dibantu oleh beberapa orang ustadz/ ustadzah privat. Jumlah ustadz privat tiap kelas disesuaikan dengan jumlah santri dalam kelas tersebut, dengan perbandingan tiap 6 santri diperlukan 1 ustadz/ustadzah. Sebagai panduan (buku pegangan) dalam pembelajaran membaca Al-Qur’an adalah buku Iqro’ yang terdiri dari jilid 1-6.
Masing-masing ustadz mengajar para santri secara bergantian satu persatu dengan prinsip CBSA (Cara Belajar Siswa Aktif), maksudnya santrilah yang aktif membaca lembaran-lembaran buku Iqro’ yang telah disusun secara sistematis dan praktis, sedangkan ustadz hanya menerangkan pokok-pokok pelajarannya dan menyimak (memperhatikan) bacaan santri satu persatu. Karena sifatnya yang individual, maka tingkat kemampuan dan hasil yang dicapai oleh masing-masing santri dalam satu kelas tidaklah sama.
Cara mengajarkan buku Iqro’ haruslah disesuaikan dengan petunjuk pengajaran yang telah digariskan oleh KH. As’ad Humam sebagai penyusun buku Iqro’. Ada 14 hal penting sebagai “Kunci Sukses Pengajaran Buku Iqro” (As’ad Humam, dkk, 2001: 97-98), yaitu:
  1. CBSA (Cara Belajar Siswa Aktif), guru menerangkan pokok bahasan, setelah itu santri aktif membaca sendiri, guru sebagai penyimak saja, jangan sampai menuntun, kecuali hanya memberikan contoh saja.
  2. Privat. Penyimakan seorang demi seorang secara bergantian. Bila klasikal (di sekolah formal atau di TPA yang kekurangan guru) menggunakan IQRO’ Klasikal yang dilengkapi dengan alat peraga IQRO’ Klasikal.
  3. Asistensi. Santri yang lebih tinggi pelajarannya dapat membantu menyimak santri lain.
  4. Mengenai judul-judul, guru langsung memberi contoh bacaannya, jadi tidak perlu banyak penjelasan. Santri tidak dikenalkan istilah fathah, tanwin, sukun dan seterusnya. Yang penting santri betul bacaannya.
  5. Komunikatif. Setiap huruf/kata dibaca betul, guru jangan diam saja, tetapi agar memberikan perhatian/sanjungan/penghargaan. Umpamanya dengan kata-kata: Bagus, Betul, Ya, dan sebagainya.
  6. Sekali huruf dibaca betul jangan diulang lagi.
  7. Bila santri keliru baca huruf, cukup betulkan huuf-huruf yang keliru saja dengan cara:
-          Isyarah, umpamanya dengan kata-kata “Eee, awas, stop” dan lain sebagainya
-          Bila dengan isyarah masih tetap keliru, berilah titian ingatan
-          Bila masih lupa, barulah ditunjukkan bacaan yang sebenarnya
-          Bila santri keliru baca di tengah/di akhir kalimat, maka betulkanlah yang keliru itu saja, membacanya tidak perlu diulang dari awal kalimat. Nah setelah selesai sehalaman, agar mengulang pada kalimat yang ada kekeliruan tersebut.
  1. Bagi santri yang betul-betul menguasai pelajaran dan sekiranya mampu dipacu, maka membacanya boleh diloncat-loncatkan, tidak perlu utuh tiap halaman.
  2. Bila santri sering memanjangkan bacaan (yang semestinya pendek) karena mungkin sambil mengingat-ingat huruf di depannya, maka tegurlah dengan “Membacanya putus-putus saja!” dan kalau perlu huruf didepannya ditutup dulu agar tidak berpikir.
  3. Santri jangan diajari dengan irama yang berlagu walaupun dengan irama tartil, sebab akan membebani santri yang belum saatnya diajarkan membaca irama tertentu. Sedangkan irama bacaan tartil dalam kaset yang dikeluarkan Team Tadarus “AMM” dimaksud untuk pengajaran MATERI HAFALAN dan ketika sudah bertadarus Al-Qur’an. Jadi tidak untuk pengajaran buku IQRO’.
  4. Bila ada santri yang sama tingkat pelajarannya, boleh dengan sistem tadarus, secara bergilir membaca sekitar 2 baris sedang lainnya menyimak.
  5. Untuk EBTA sebaiknya ditentukan ditunjuk guru penguji khusus supaya standarnya tetap dan sama.
  6. Pengajaan buku IQRO’ (jilid 1 s/d 6) sudah dengan pelajaran tajwid yaitu tajwid praktis, artinya santri akan bisa membaca dengan benar sesuai dengan ilmu tajwid. Sedangkan ilmu tajwid itu sendiri (seperti istilah idghom, ikhfa’, macam-macam mad, sifat-sifat huruf dan sebagainya) diajarkan setelah lancar tadarus  Al-Qur’an beberapa juz.
  7. Syarat kesuksesan, disamping menguasai/menghayati petunjuk mengajar, mesti saja guru fasih dan tartil mengajarnya.
  1. IV. Efektivitas Metode Pembelajaran Iqro’
Telah disebutkan diatas bahwa pembelajaran membaca Al-Qur’an di TKA-TPA “AMM” ini sepenuhnya menggunakan buku Iqro’ lengkap dengan metodologi yang telah digariskan oleh penyusunnya, serta penerapannya dibimbing dan diawasi oleh Pengurus Team Tadarus “AMM”. Pertanyaan berikutnya adalah sejauhmana efektivitasnya?
Untuk menjawab pertanyaan ini, diperlukan penelitian untuk mengetahui kecepatan para santri dalam menyelesaikan buku Iqro’ jilid 1 s/d 6 di TKA-TPA “AMM” ini. Jilid 1 adalah merupakan awal seorang santri memulai belajar membaca Al-Qur’an, sedang jilid 6 adalah sebagai tanda seorang santri telah mampu membaca Al-Qur’an.
Saat penelitian ini dilakukan, Maret 2009 TKA-TPA “AMM” baru saja melaksanakan pembagian rapor semester gasal tahun pembelajaran 2008-2009. Semester gasal berlangsung selama 6 bulan, yaitu sejak tanggal 15 September 2008 s/d 15 Februari 2009. Pertanyaannya adalah bagaimana kondisi kemampuan para santri dalam membaca Iqro’ setelah mereka belajar selama 1 (satu) semester ini? Jawaban pertanyaan ini tentu harus melihat pada TKA-TPA. Karena TKA-TPA adalah jenjang pertama (jenjang Iqro’). (Wawancara dengan Muakhiroh, S.Pd.I., Direktur TKA-TPA “AMM”, Senin, 23 Maret 2009)


Klasifikasi Kemampuan Membaca Iqro’
Santri TKA-TPA “AMM” (setelah 6 bulan belajar)
No Tingkatan Jilid TKA N=140 % TPA N=75 % Jumlah N=215 %
1. Jilid 1 10 7,14 % 1 1,33 % 11 5,12 %
2. Jilid 2 20 14,28 % 5 6,67 % 25 11,63 %
3. Jilid 3 40 28,57 % 16 21,33 % 56 26,05 %
4. Jilid 4 37 26,43 % 22 29,34 % 59 27,44 %
5. Jilid 5 11 7,86 % 13 17,33 % 24 11,16 %
6. Jilid 6 17 12,14 % 13 17,33 % 30 13,95 %
7. Al-Qur’an 5 3,58 % 5 6,67 % 10 4,65 %

Jumlah 140 100 % 75 100 % 221 100 %
Dari tabel di atas dapat diketahui bahwa dalam waktu 6 bulan, pencapaian kemampuan membaca Iqro’ untuk santri TKA dengan TPA berbeda. Dari 140 santri TKA, yang telah menyelesaikan Iqro’ 1-3 ternyata hanya separohnya, yaitu ada 70 anak (50 %) dan yang 70 anak (50 %) masih berada pada Iqro’: 1-3. Dengan demikian, bisa diprediksikan bahwa untuk TKA, target 1 (satu) tahun telah mampu membaca Al-Qur’an tidak akan tercapai. Artinya, untuk TKA diprediksikan masih diperlukan tambahan waktu untuk menuntaskan 140 santri (100 %) memiliki kemampuan membaca Al-Qur’an. Namun demikian, ternyata telah terdapat 5 anak (3,58 %) yang telah mengkhatamkan Iqro’: 1-6 dan akan segera disusul oleh 17 anak (12,14 %) yang sekarang sudah memasuki Iqro’: 6.
Sedang untuk TPA, dari 75 santri yang ada, dalam waktu 6 bulan mayoritas dari mereka (53 anak = 70,66 %) telah bisa menyelesaikan buku Iqro’: 1-3 dan hanya 22 anak (29,34 %) yang belum bisa memasuki Iqro’: 4. Ini berarti, mayoritas santri TPA akan bisa menyelesaikan buku Iqro’: 1-6 dalam waktu 1 (satu) tahun, sesuai dengan target yang ditentukan. Bahkan terdapat 5 anak           (6,67 %) yang telah mengkhatamkan Iqro’: 1-6 dan akan segera disusul oleh 13 anak (17,33 %) yang sekarang sudah memasuki Iqro’: 6. Dengan perkataan lain untuk anak usia SD, dengan sistem TPA dan metode Iqro’, akan bisa diantarkan memiliki kemampuan membaca Al-Qur’an dalam waktu 6-12 bulan.
Yang menarik dari data di atas, ternyata masih ada 10 anak (7,14 %) TKA dan 1 (satu) anak (1,33 %) TPA yang belum beranjak dari Iqro’: 1. Mengapa hal ini bisa terjadi? Setelah ditelusuri pada daftar absensi, ternyata ke 11 anak ini sehari-hari memang tidak begitu aktif mengikuti pelajaran. Dari ke 11 anak ini kehadirannya tidak ada yang lebih dari 50 %. Sehingga wajar kalau mereka tertinggal.
Di atas telah dipaparkan kondisi setelah 6 bulan santri belajar Iqro’ di TKA-TPA dan belum memberikan gambaran kecepatan santri TKA-TPA dalam menyelesaikan Iqro’: 1-6. Untuk mengetahui hal ini, perlu melihat kembali dokumentasi yang ada pada santri yang sekarang duduk di TKAL-TPAL. Berapa bulan sebenarnya, waktu yang harus mereka habiskan untuk bisa menyelesaikan Iqro’: 1-6 pada saat mereka duduk di TKA-TPA setahun yang lalu?
Jumlah santri TKAL sekarang ini ada 66 anak, yang terdiri dari 35 santri putra dan 31 santri putri. Sedang jumlah santari TPAL sekarang ini ada 51 anak, yang terdiri dari 32 santri putra dan 19 santri putri. Sehingga jumlah santri TKAL-TPAL keseluruhannya ada 117 santri.
Setelah melihat kembali dokumentasi kecepatan 117 santri dalam menyelesaikan buku Iqro’: 1-6 dapat dibuat tabel sebagai berikut:
Kecepatan Santri TKA-TPA Tahun 2007/2008
dalam Menyelesaikan Iqro’: 1-6
No Tingkatan Jilid TKAL N=66 % TPAL N=51 % Jumlah N=117 %
1. 1 – 2 bl 0 0 % 0 0 % 0 0 %
2. 3 – 4 bl 0 0 % 0 0 % 0 0 %
3. 5 – 6 bl 4 6,06 % 6 11,76 % 10 8,55 %
4. 7 – 8 bl 7 10,60 % 7 13,73 % 14 11,97 %
5. 9 – 10 bl 11 16,67 % 12 23,53 % 23 19,66 %
6. 11 – 12 bl 14 21,21 % 18 35,30 % 32 27,35 %
7. 13 – 14 bl 13 19,70 % 4 7,84 % 17 14,53 %
8. 15 – 16 bl 4 6,06 % 1 1,96 % 5 4,28 %
9. 17 – 18 bl 7 10,60 % 0 0 % 7 5,98 %
10. 19 – 20 bl 2 3,03 % 0 0 % 2 1,71 %
11. 21 – 22 bl 0 0 % 1 1,96 % 1 0,85 %
12. 23 – 24 bl 1 1,52 % 2 3,92 % 3 2,56 %
13. Lebih 24 bl 3 4,55 % 0 0 % 3 2,56 %

Jumlah 66 100 % 51 100 % 117 100 %
(Diolah dari dokumentasi “Kartu Prestasi Iqro” tahun 2007/2008, dikutip, Senin, 23 Maret 2009)
Dari tabel di atas dapat diketahui bahwa:
  1. Walaupun awal mulainya dalam waktu yang sama, namun ternyata dalam menyelesaikan buku Iqro’nya, bisa sangat bervariasi. Ada yang bisa menyelesaikan dalam waktu kurang dari 6 bulan (1 semester), namun ada yang lebih dari 24 bulan (4 semester). Hal ini sangat dimungkinkan, karena TKA-TPA dalam mengajarkan Iqro menggunakan sistem privat (sorogan). Sehingga santri yang cerdas dan rajin masuk akan lebih cepat selesai dan tidak menunggu santri yang kurang cerdas dan kurang rajin masuk.
  2. Dengan sistem TKA-TPA dan metode Iqro’ ternyata memungkinkan seorang santri lebih cepat mampu membaca Al-Qur’an. Terbukti dalam waktu tidak lebih dari 6 bulan, sudah terdapat 10 anak dari 117 anak (8,55 %) yang telah memiliki kemampuan membaca Al-Qur’an. 10 anak tersebut, 4 anak diantaranya masih usia TK sedang yang 6 anak berusia SD Kelas 1-3.
  3. Terdapat perbedaan yang signifikan antara anak usia TK (4,0 – 6,0 tahun) dan anak usia SD (7,0 – 9,0 tahun) dalam kecepatan menyelesaikan buku Iqro’. Melalui TK Al-Qur’an, dalam waktu 12 bulan baru terdapat 36 anak dari 66 anak (54,55 %) yang mampu menyelesaikan Iqro’ : 1-6, dan dibutuhkan waktu 18 bulan (3 semester) untuk bisa mencapai angka 89,39 % (59 anak dari 66 anak). Bahkan harus dibutuhkan waktu lebih dari 2 tahun untuk bisa menuntaskan seluruh anak usia TK tersebut bisa menyelesaikan Iqro’: 1-6. Hal ini bisa dimengerti karena memang mereka masih usia TK, suatu usia yang oleh banyak pihak diragukan kemampuannya untuk diajar membaca.
  4. Berbeda dengan anak usia TK, anak usia SD ternyata lebih cepat dalam menyelesaikan Iqro’. Dalam waktu 6 bulan, tercatat ada 6 anak dari 51 anak (11,76 %) yang telah bisa menyelesaikan Iqro’: 1-6. Kemudian dalam waktu 12 bulan, mayoritas dari mereka (43 dari 51 anak/84,31 %) telah mampu menyelesaikan Iqro’: 1-6. Sedangkan untuk anak usia TK, dalam waktu yang sama hanya mencapai angka 54,55 %.
Dari uraian di atas dapat diketahui efektivitas metode Iqro’ melalui sistem TKA-TPA. Bagi anak usia TK (4,0 – 6,0 tahun), terbukti mampu diantarkan memiliki kemampuan membaca Al-Qur’an dalam waktu antara 6,0 – 18,0 bulan (89,39 %), sedang bagi anak usia SD (7,0 – 9,0 tahun) bisa lebih cepat lagi, yaitu dalam waktu antara 6,0 – 12,0 bulan (84 %). Waktu yang relatif cepat bila dibandingkan dengan metode (kaidah) Baghdadiyah melalui sistem pengajian tradisional, yang memerlukan waktu antara 2 – 5 tahun. (Mahmud Yunus, 1979: 35)
  1. V. Hambatan Yang Dihadapi
Hasil prestasi di atas, mestinya bisa lebih ditingkatkan lagi andaikan tidak terhambat oleh 2 faktor utama, yaitu:
  1. Rendahnya prosentase kehadiran para santri. Hal ini bisa dilihat pada daftar presensi yang menunjukkan bahwa prosentase rata-rata kehadiran para santri sangat rendah. Padahal keaktifan kehadiran sangat besar pengaruhnya terhadap keberhasilan suatu pendidikan. Betapapun baiknya seorang ustadz dan betapapun canggihnya suatu metode, kalau muridnya jarang hadir tentu hasilnya tidak akan optimal. Berikut ini disajikan tabel prosentase rata-rata kehadiran santri selama 1 (satu) semester yang lalu (September 2008 s/d Pebruari 2009).
Prosentase Rata-rata Kehadiran Santri
No Unit Sept (%) Oktt (%) Nop (%) Des (%) Jan (%) Peb (%) Komulatif 1 smt (%)
1. TKA 78 72 69 66 68 63 69,33
2. TPA 87 67 65 65 63 64 68,50

Jumlah Rata-rata 82,5 69,5 67,0 65,5 65,5 63,5 68,91
(Diolah dari Dokumentasi Daftar Presensi Kehadiran Santri TKA-TPA “AMM” Semester Gasal Tahun 2008/2009, dikutip Senin, 30 Maret 2009)
Tabel di atas menunjukkan bahwa dalam semester yang lalu (September 2008 s/d Pebruari 2009) keaktifan kehadiran santri TKA-TPA “AMM” hanya mencapai angka 68,91 %. Sebab ketidakhadiran yang paling utama adalah adanya berbarengan kegiatan di SD-nya, seperti pramuka, pelajaran tambahan, dan lain-lain. (Wawancara dengan Muakhiroh, S.Pd.I., Direktur TKA-TPA “AMM”, Senin, 23 Maret 2009). Para ustadz nampaknya tidak bisa “memaksa” agar para santri lebih mengutamakan TKA-TPA daripada kegiatan SD-nya.
  1. Kesulitan mencari ustadz/ustadzah yang fasih membaca Al-Qur’annya sekaligus memiliki kualifikasi akademik dibidang keguruan. (Wawancara dengan M. Najib, Pengurus Yayasan Team Tadarus “AMM” Yogyakarta, Ahad, 29 Maret 2009). Dari 34 orang ustadz/ustadzah yang ada, yang memiliki ijazah keguruan hanya ada 10 orang (29,41 %), dan itupun tidak ada yang memiliki ijazah keguruan dibidang pendidikan Al-Qur’an. Bahkan tercatat ada 11 orang ustadz/ustadzah (32,35 %) yang memiliki latar belakang pendidikan “non keagamaan”, seperti Sastra Jawa, Ekonomi, Ilmu Politik, Biologi, Pertanian, Tata Busana dan Listrik. Hal ini tentu berakibat kurang optimalnya hasil yang dicapai.
  1. VI. Penutup
Dari uraian di atas telah tergambar dengan jelas tingkat efektivitas metode Iqro’ dalam pembelajaran membaca Al-Qur’an di TKA-TPA “AMM” Kotagede Yogyakarta. Bagi anak usia TK (4,0 – 6,0 tahun) dalam waktu 6 – 18 bulan sudah mencapai angka 89,9% yang bisa diantarkan memiliki kemampuan membaca Al-Qur’an. Sedang untuk anak usia SD (mayoritas usia 7,0 – 9,0 tahun) ternyata lebih cepat lagi. Dalam waktu 12 bulan, mayoritas dari mereka (84,31%) telah lancar membaca al-Qur’an. Waktu yang relatif cepat bila dibandingkan dengan metode (kaidah) Baghdadiyah melalui sistem pengajian “tradisional” yang memerlukan waktu 2 – 5 tahun.

19.41 | 0 komentar | Read More

KISAH TRAGIS DIBALIK LAGU "HYMNE GURU"

Written By Unknown on Selasa, 14 Agustus 2012 | 19.09


Siapa yang tak kenal lagu ini lirik hymne guru berjudul “Pahlawan Tanpa Tanda Jasa“? Masih terngiang betapa di era 1980-an, lagu ini sangat sering dinyanyikan di sekolah-sekolah. Sebab setiap upacara bendera pada hari Senin, lagu ini selalu dinyanyikan.


Istilah “pahlawan tanpa tanda jasa” bahkan kemudian menjadi ikon yang disematkan kepada para guru. Siapa sangka bila “sang pahlawan” yang tanpa tanda jasa itu sejatinya dialami si pencipta lagu tersebut. Ya, Sartono, pencipta lagu yang juga guru itu di masa senjanya hidup dalam kesederhanaan. Laki- laki asal Madiun yang genap berusia 72 tahun, 29 Mei ini, tinggal rumah sederhana di Jalan Halmahera 98, Madiun. Sejak ia mengajar musik di SMP Purna Karya Bhakti Madiun pada 1978, hingga “pensiun” pada 2002 lalu, Sartono tetap menyandang guru honorer. Ia tak punya gaji pensiunan, karena statusnya bukan guru Pegawai Negeri Sipil (PNS).

Kawan-kawan sesama guru sempat membantu mengajukan dia menjadi PNS. “Katanya sih sering diajukan nama saya, tetapi sampai saya pensiun dari tugas sebagai guru, PNS untuk saya kok tidak datang juga,” kata Sartono.

Sartono memang minder dengan latar belakang pendidikannya yang tak tamat SMA. Ia mengajar di SMP Purna Karya Bhakti, yang belakangan lebih dikenal sebagai SMP Kristen Santo Bernadus, berbekal bakatnya di bidang musik. Sartono yang beragama Islam itu melamar di Santo Bernadus berbekal sertifikat pengalaman kerja di Lokananta, perusahan pembuat piringan hitam di Solo, Jawa Tengah.

Hidup serba dalam kesempitan, tak membuat Sartono meratapi nasib. Ia merasa terhibur, dengan kebersamaan dengan Damiyati, BA, 59 tahun, isterinya yang guru PNS. Damiyati dinikahi Sartono pada 1971. Dari pernikahan mereka belum jua dikaruniai anak. Sehingga mereka mengasuh dua orang keponakan. Damiyati yang juga guru, juga seniman biasa manggung bersama Ketoprak Siswo Budoyo Tulungagung, di masa mudanya.

Kehidupan sehari-harinya kini hanya dari pensiun istrinya yang tak lebih dari dari Rp 1 juta. Sartono sendiri kala masih aktif mengajar, gajinya pada akhir pengabdiannya sebagai guru seni musik cuma Rp 60.000 per bulan. “Gaji saya sangat rendah, bahkan mungkin paling rendah diantara guru-guru lainnya,” katanya mengenang masa lalunya.

Kala masih kuat, Sartono menambal periuk dapurnya dengan mengajar musik. Sepekan sekali, Sartono yang pandai bermain piano, gitar, dan saksofon, ini rutin mengajar kulintang di Perhutani Nganjuk, sekira 60 kilometer dari rumahnya di Madiun.

BERMULA DARI LOKANANTA
Jalan menjadi guru berawal dari kegemarannya bermain musik. Putra sulung dari lima bersaudara ini sebenarnya lahir dari keluarga cukup berada. Maklum, ayahnya R. Soepadi adalah Camat Lorog, Pacitan. Sartono kecil memang suka bermain musik secara otodidak. Namun, hidup nyaman tak bisa dirasakan berlama-lama. Ketika ia berusia 7 tahun, Jepang menduduki Indonesia. Ayahnya pun tak lagi menjabat camat.

Sartono, bersama empat adiknya, Sartini, Sartinah, Sarwono dan Sarsanti, tak bisa mengenyam pendidikan tinggi. Ia sendiri putus sekolah kala kelas dua di SMA Negeri 3 Surabaya. Ia kemudian bekerja di Lokananta, perusahaan rekaman dan produsen piringan hitam. “Saya Lupa tahun berapa itu, tapi saya hanya bekerja selama dua tahun saja,” kata Sartono, yang mengaku sudah susah mengingat tahun.

Selepas kerja di Lokananta, Sartono bergabung dengan grup musik keroncong milik TNI AU di Madiun. Ia bersama kelompok musik tentara itu pernah penghibur tentara di Irian. “Di sana selama tiga bulan,” jelasnya.

DARI SECARIK KORAN
Ihwal penciptaan lagu himne guru itu boleh dibilang tak sengaja. Ketika itu, tahun 1980, Sartono tengah naik bis menuju Perhutani Nganjuk, untuk mengajar kulintang. Di perjalanan, secara tidak sengaja ia membaca di secarik koran, mengenai sayembara penciptaan lagu himne guru yang diselenggarakan Depdiknas. Hadiahnya besar untuk saat itu, Rp 750.000. Waktu yang tersisa dua pekan, untuk merampungkan lagu.

Sartono yang tak bisa membaca not balok ini, mulai tenggelam dalam kerja keras mengarang lagu saban harinya. “Saya mencermati betul seperti apa sebenarnya guru itu,” jelas Sartono sambil memulai membuat lagu itu.

Waktu sudah mepet, lagu belum juga jadi. Sartono pusing bukan kepalang. Syairnya masih amburadul. Pada hari pertama Hari Raya Idul Fitri, Sartono tidak keluar rumah. Ia bahkan tak turut beranjang sana mengantar istri dan dua keponakannya silaturrahmi ke orangtua dan sanak famili. “Saat itu kesempatan bagi saya untuk membuat lagu dan syair secara serius,” katanya. “Waktu itu saya merasa begitu lancar membuat lagu dan menulis syairnya.”

Awalnya, lirik yang ia ciptakan kepanjangan. Padahal, durasi lagu tak lebih dari empat menit. Sartono pun berkali- kali mengkajinya untuk mengetahui mana yang harus dibuang. “Karena panjang sekali, maka saya harus membuang beberapa syairnya,” jelas Sartono. Hingga muncullah istilah “pahlawan tanpa tanda jasa.”

“Guru itu juga pahlawan. Tetapi selepas mereka berbakti tak satu pun ada tanda jasa menempel pada mereka, seperti yang ada pada polisi atau tentara,” katanya.

Persoalan tak begitu saja beres. Lagu ada, Sartono kebingungan mengirimnya ke panitia lomba di Jakarta. Sebab ia tidak punya uang untuk biaya pengiriman via pos. “Akhirnya saya menjual jas untuk biaya pos,” katanya. Sartono menang. “Hadiahnya berupa cek. Sesampainya di Madiun saya tukarkan dengan sepeda motor di salah satu dealer,” kata Sartono.

PENGHARGAAN MINIM
Lagunya melambung, Sartono tidak. Sang pencipta tetap saja menggeluti dunia mengajar sebagai guru honorer hingga “pensiun.” Kalaulah ada penghargaan selain hadiah mencipta lagu, “cuma” beberapa lembar piagam ucapan terimakasih. Nampak piagam berpigura dari Gubernur Jawa Timur Imam Utomo yang diberikan pada 2005. Pak Gubernur juga memberikan bantuan Rp 600.000, plus sebuah keyboard.

Piagam lainnya diberikan Menteri Pendidikan Nasional Yahya Muhaimin pada 2000. Kemudian piagam dari Menteri Pendidikan Nasional Bambang Soedibyo pada 2005, plus bantuan uang. “Isinya enam ratus ribu rupiah,” kata Sartono.

Tahun 2006 lalu, giliran Walikota Madiun yang dalam sepanjang sejarah baru kali ini memberikan perhatian kepadanya. “Pak Walikota menghadiahi saya sepeda motor Garuda,” kata Sartono seraya menunjuk sepeda motor pemberian Walikota Madiun.

Meski minim perhatian, Sartono tetaplah bangga, lagunya menjadi himne para guru. Pekerjaan yang dilakoninya selama 24 tahun. Pengabdian yang tak pendek bagi seorang pahlawan tanpa tanda jasa.

sumber
19.09 | 0 komentar | Read More

Papan Tulis Interaktif

Written By Unknown on Rabu, 21 Maret 2012 | 20.20


Sewaktu saya melakukan praktek mengajar Pembelajaran Kelas Rangkap, saya bersama teman- teman saya melakukan praktek di salah satu sekolah berstandar nasional yang ada di kota Banjarmasin, tepatnya di SDN SN Pemurus 2 Banjarmasin .Waktu itu sambil menunggu- nunggu tanda tangan dari sang bapak kepala sekolah, kami pun disuruh menunggu di perpustakan sambil bantu- bantu merapikan ruang tersebut bersama guru- guru lainnya. Dan saat kami mulai masuk ruangan tersebut, kami pun dikejutkan oleh sebuah media pembelajaran dengan model terbaru yang belum pernah kami lihat sebelumnya, sebuah papan tulis yang unik, berukuran besar, sensitif terhadap sentuhan (seperti layar komputer) yang biasa kita kenal dengan touch screen, yang memungkinkan siswa mengerjakan soal, menjelajahi web dan mengedit video hanya dengan menggunakan jari-jari mereka. Menurut bapak kepala sekolahnya sih, di kalimantan sekarang ini cuma baru ada dua sekolah yang mendapat dan memiliki papan tulis ini , salah satunya Sekolah Dasar di Martapura, tapi saya lupa nama sekolahnya apa.
Keren kan gan, hehehe

Dengan ini siswa dapat menggunakan papan tulis touch screen untuk mendemonstrasikan pemecahan untuk soal-soal matematika. Mereka dapat menggambar di papan dengan ujung jari mereka dan menjelaskan kepada kelas mengapa mereka menjawab begitu.

Dengan papan tulis ini Guru juga dapat menampilkan slide-show atau bahkan video. Sekarang bahkan bisa membuka halaman web untuk mendapatkan informasi yang berguna hanya dalam hitungan detik.
Papan tulis interaktif yang dilengkapi layar sentuh ini dapat ditemukan di lebih dari 150.000 ruang kelas di US, dan seiring tumbuhnya teknologi secara internasional, papan tulis ini akan hadir di 75 negara, dan Indonesia sudah termasuk di dalamnya.
Mungkin sobat- sobat Cagur (calon guru) & Guru semua mulai terfikirkan bagaimana sih kerja dan fitur- fitur dari papan tulis ini?, baiklah akan langsung kita simak info berikut ini :

Cara Kerja Papan Tulis Sentuh
Papan tulis interaktif bekerja layaknya PC/laptop. Papan tulis akan dihubungkan ke suatu layar/LCD yang lebih besar (proyektor). Cara mengoperasikan dengan alat yang dikenal sebagai pena tanpa tinta. Pena tanpa tinta sebagai mouse (dalam laptop) dan LCD pada papan tulis interaktif sebagai layar monitor. Pena tanpa tinta sebagai alat tulis di sini memiliki dua fungsi. Pertama, pena diprogram dapat menampilkan warna yang berbeda (layaknya pena biasa), antara lain biru, hitam, merah, dan hijau. Kedua, pena juga berfungsi sebagai penghapus. Ketika telah tersambung dengan komputer dan proyektor, papan tulis ini dapat langsung bekerja.
Papan Tulis Interaktif, merupakan sebuah papan tulis besar yang menggunakan teknologi sentuh untuk mendeteksi input pengguna (misalnya interaksi bergulir) yang setara dengan perangkat input PC biasa, seperti mouse atau keyboard. Sebuah proyektor digunakan untuk menampilkan video output komputer ke papan tulis, yang kemudian bertindak sebagai layar sentuh besar. Papan tulis interaktif biasanya telah disediakan pula alat-alat tulis digital yang menggunakan pena tanpa tinta atau pena digital, menggantikan alat tulis papan tulis tradisional, spidol. Pena tanpa tinta ini bekerja dengan menggunakan digitizer aktif yang mengontrol PC/laptop guna masukan informasi untuk kemampuan menulis seperti menggambar atau tulisan tangan.
Ada juga tombol yang meluncurkan popup keyboard dan mouse kanan menu klik untuk lebih banyak pilihan input. Papan tulis interaktif biasanya dipasang di dinding atau lantai berdiri dan digunakan agar dapat difungsikan oleh seseorang.
Simpel nya begini gan :





Fitur Fitur Yang Tersedia
1
1.       Perangkat lunak yang memiliki kemampuan perekaman selama proses presentasi berlangsung. Perekaman yang dilakukan antara lain suara pelaku presentasi (presenter), juga materi-materi presentasi, baik yang sudah ada, atau yang telah mengalami proses pengeditan.
2.       Kemampuan melakukan Konferensi Presentasi
3.       Teknologi zoom interaktif
4.       Karena teknologi tinggi yang terdapat di dalamnya, ia mampu mengubah tulisan tangan menjadi tulisan teks pada layar komputer (LCD). Ketika ingin mengubah, mengedit presentasi, data, dll, dapat dilakukan langsung pada layar LCD papan tulis interaktif, tanpa harus menggunakan PC/laptop.
5.       Selain menjadi teks, papan tulis juga dapat mengubah tulisan tangan ke bentuk gambar. Misalnya, berupa tanda tangan. Bisa langsung pada layar LCD papan tulis interaktif tanpa harus mencetak terlebih dahulu dokumen presentasi tersebut.
6.       Teknologi Sistem Pemotongan. Sistem ini mampu memotong suatu tulisan yang ada dalam layar LCD papan tulis interaktif.
7.       Teknologi Digital Lihat-Sentuh
Teknologi ini dikenal dengan nama touchscreen. Papan tulis interaktif menggunakan teknologi ini dimana pengguna dapat menyentuh muka (layar) papan tulis untuk mengontrol segala aplikasi yang ada pada komputer atau menulis di layar tersebut. Kamera digital (dalam layar papan tulis interaktif) dan perangkat lunak di dalamnya dapat mendeteksi setiap sentuhan jari atau pena tanpa tinta yang digunakan dan ia akan diubah secara otomatis menjadi layaknya mouse di komputer.



20.20 | 1 komentar | Read More